Program donasi BUKU SAHABAT ANAK melalui rekening Bank BRI Unit Sumur Batu Kemayoran No. Rekening 0785-01-000864-50-7 An. Teguh Iman Santoso
Tampilkan postingan dengan label Minat Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minat Baca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

BIMBINGAN TEKNIS PENGELOLA TAMAN BACAAN

Banyak yang menarik dari kegiatan ini dan kemudian memacu kembali semangat para pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang hadir pada Bimbingan Teknis bagi pengelola Taman Bacaan Masyarakat se Kota Administrasi Jakarta Utara (termasuk diantaranya saya pengelola Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu)  pada tanggal 25 sampai dengan 27 Oktober 2011.  Bimtek yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Administrasi Jakarta Utara ini dilaksanakan untuk membekali kepada pengelola Taman Bacaan Masyarakat tentang tata cara kelola TBM agar menarik minat masyarakat untuk datang dan tentu saja membaca koleksi buku di TBM, mengelola bahan pustaka melalui klasifikasi menurut subjek buku, tips-tips mengisi kegiatan TBM yang tidak hanya diisi dengan kegiatan baca di tempat atau menyewakan buku bacaan.

Dari Bimtek inilah kemudian para pengelola TBM saling berbagi informasi dan kendala yang dihadapi masing-masing TBM dalam menjalankan aktifitasnya.  Alhamdulillah Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Administrasi Jakarta Utara dapat memahami dan mencoba mengakomodasi keinginan dan harapan pengelola TBM, diantaranya dengan menyiapkan program paket buku bagi TBM untuk meminjam paket buku sebanyak maksimal 200 buku untuk dikelola TBM sehingga dapat menjadi bahan bacaan pengunjung di masing-masing TBM dengan jangka waktu peminjaman selama 3 bulan, mengkomunikasikan kepada stakeholder yang ada di wilayah Kota Adm. Jakarta Utara, untuk kiranya dapat membantu penyediaan sarana dan prasarana bagi masing-masing TBM.

Kiranya sama seperti yang diharapkan para pengelola TBM lainnya yang hadir pada Bimteks tersebut, saya memberikan apresiasi kepada Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Adm. Jakarta Utara atas kegiatan Bimtek ini serta dapat menyokong sepenuhnya kepada  TBM agar tetap eksis di tengah-tengah masyarakat.   Apalagi seperti saya yang mengelola Taman Bacaan dengan segmentasi pembaca anak-anak sangat membutuhkan penambahan judul buku, menyediakan sarana multi media dan gerobak buku sebagai perpustakaan keliling menjadi kebutuhan mendesak dalam melayani mereka.

Kamis, 23 Juni 2011

PROPOSAL PENGADAAN SARANA BACA DAN BUKU BACAAN BAGI TAMAN BACAAN ANAK GUDANG ILMU


Kurangnya minat dan budaya membaca saat ini menjadi sebuah keprihatinan yang cukup mendalam.  Kita sering membaca berbagai slogan berisi sanjungan kepada buku.  Memang, siapa pun tahu betapa buku amat sangat bermanfaat.  Sanjungan-sanjungan terhadap buku membuktikannya.
Namun sering dikeluhkan di berbagai kesempatan tentang rendahnya minat dan budaya baca pada anak-anak atau tentang buku yang bukan menjadi media dekat dengan anak-anak.   Ketimbang buku, anak-anak kita kebanyakan lebih menyukai media TV, videogame, internet atau HP.  Kalau toh membaca buku, yang disukai anak-anak adalah komik.

Berawal dari keprihatinan inilah sebuah gagasan terwujud untuk mendirikan sebuah taman bacaan.  Taman bacaan ini di beri nama “Gudang Ilmu”, sebuah nama yang unik mudah mudahan anak-anak tertarik.  Makna yang tersirat dari “Gudang Ilmu” adalah Taman Bacaan dengan buku-buku yang berkualitas tentu menjadi tempat (Gudang) sumber pengetahuan (Ilmu).  Ulasan lengkap klik pada blog kami di http://tbagudangilmu.blogspot.com .

Gagasan yang terwujud sudah barang tentu diiringi dengan kepedulian, jiwa kerelawanan, tulus dan ikhlas.  Kami tidak berpikir muluk akan sebesar apa nanti taman bacaan ini setelah berjalan.  Sudah tentu dengan mengukur antara kemampuan yang dimiliki dengan cita-cita yang mau diwujudkan.  Kami tidak mungkin membandingkan Taman Bacaan Gudang Ilmu dengan Perpustakaan Besar, karena ini bisa memperlebar kesenjangan antara keinginan dan kemampuan.  Saat ini kami hanya ingin Taman Bacaan Gudang Ilmu bisa dinikmati dan bermanfaat untuk anak-anak.
PROFILE TAMAN BACAAN ANAK
“GUDANG ILMU”

1.       Penanggung Jawab : Teguh Iman Santoso
2.       Alamat lokasi : Gg. Perjuangan II RT. 003/05 No. 37 Kel. Sunter Jaya, Kec. Tanjung Priok Kota Administrasi Jakarta Utara.
3.       Beroperasi sejak bulan Februari 2011, dengan jadwal buka : Setiap hari Minggu pukul 09.00 WIB s/d 14.00 WIB.
4.       Jenis perpustakaan : Perpustakaan dengan segmentasi pembaca anak-anak, usia 4 s/d 14 tahun, tanpa dipungut bayaran (Gratis) bergerak secara pribadi dibantu relawan.
5.       Jenis layanan : Baca buku di tempat, bermain sains, mengenal lingkungan hidup, Story Telling (mendongeng), Read Loud (membacakan buku), Bengkel Kreatif anak, kedepan kami ingin menambah satu layanan baru berupa layanan perpustakaan keliling menggunakan gerobak buku untuk menjangkau anak-anak lebih luas.
6.       Buku bacaan yang dimiliki saat ini baru 200 judul (pengadaan sendiri dan bantuan donatur) berisi dongeng bergambar, fiksi anak, Sains dan pengetahuan lainnya.  Materi buku kami lebih diutamakan kepada isi yang mengajarkan budi pekerti, moral agama, ketrampilan dan kreatifitas anak.
7.       Kontak person : 021 91598490 - 087881886213
     





BENTUK DONASI (BANTUAN)

Kami mengundang kepedulian Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mendonasikan sebagian rejekinya pada Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu, baik secara perorangan atau atas nama perusahaan/instansi (corporate).

Kami menawarkan 3 (tiga) nilai donasi masing – masing bernilai ;
1.      Paket donasi sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu Rupiah), sebagai bentuk apresiasi (reward) kami akan menempelkan pada cover buku yang kami beli, nama/photo donatur Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu.
2.      Paket donasi sebesar Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah), sebagai bentuk apresiasi (reward) kami akan memberikan souvenir berupa Kaos donatur Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu dan menempelkan photo atau nama donatur/instansi/perusahaan pada sarana baca dan buku bacaan yang kami beli.
3.      Paket donasi sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah), sebagai bentuk apresiasi (reward) kami akan memberikan souvenir berupa Kaos donatur Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu dan menempelkan photo atau nama donatur/instansi/perusahaan pada sarana penunjang Taman Bacaan dan buku bacaan yang kami beli serta pada blog kami di http://tbagudangilmu.blogspot.com selama 6 bulan.

Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas donasi yang diberikan, kami akan menyampaikan laporan setelah pembelian sarana baca dan buku bacaan pada kesempatan pertama senilai donasi yang diberikan.


PENUTUP

Adanya kegiatan dan program di Taman Bacaan Gudang Ilmu merupakan salah satu bentuk kepedulian, bersifat bebas dan terbuka untuk semua warga.  Dilakukan secara mandiri dan tidak terikat. Semoga dengan adanya wadah dan kegiatan ini dapat mendorong inisiatif-inisiatif setiap masyarakat untuk turut serta menanamkan kesadaran dan bertanggungjawab terhadap meningkatkan minat baca anak-anak.

Demikian proposal ini kami buat dengan harapan dapat memberikan gambaran program dan kegiatan yang sedang dan akan kami laksanakan. Dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Pengelola Taman Bacaan Anak
“ Gudang Ilmu “


Teguh Iman Santoso

KOLEKSI BUKU BARU BULAN INI


Bulan Juni 2011 ini bertambah lagi koleksi buku di Taman Bacaan Anak Gudang Ilmu.  Buku ini kami hadirkan untuk menambah bahan bacaan dalam rangka mengisi waktu liburan anak sekolah.    Sehingga waktu liburan ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mereka.  Koleksi buku baru diantaranya :


1.         Seri Sains Pengenalan Logam yang terdiri dari 8 buah judul buku dengan masing-masing judul berisi tentang pengenalan jenis-jenis logam diantarannya ;Timah, Aluminium, Tembaga, Seng, Emas, Perak, Besi dan Raksa (Merkuri).  Buku ini diterbitkan oleh Bestari Kids.  Narasi disampaikan dengan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) dengan ilustrasi gambar yang menarik di setiap halamannya.  Buku ini cocok sebagai bahan bacaan anak usia 5 s/d 7 tahun atau bagi anak yang baru lancar membaca karena menggunakan rangkaian narasi yang pendek.  Sebagai tokoh utama profesor Teno, Mongki, Bani dan Pusi dengan olah cerita berbentuk Fabel diharapkan membangun imajinasi anak.











2.            Seri Sains Teknologi Daur Ulang yang terdiri dari 10 buah judul buku dengan masing-masing judul berisi tentang pengenalan teknologi untuk mendaur ulang sampah atau limbah organic dan non organic, diantaranya ; Kertas, Plastik, Kaca, Logam, Tekstil, Baterei, Kayu, Komputer dan Sampah Organik menjadi kompos. Buku ini diterbitkan oleh Bestari Kids.  Narasi disampaikan dengan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) dengan ilustrasi gambar yang menarik di setiap halamannya.  Buku ini cocok sebagai bahan bacaan anak usia 5 s/d 7 tahun atau bagi anak yang baru lancar membaca karena menggunakan rangkaian narasi yang pendek. Sebagai tokoh utama Tiko, Dobi, Rebo, Bebi dan Sasa dengan olah cerita berbentuk Fabel diharapkan membangun imajinasi anak.  Melalui buku ini diharapkan anak mengenal cara dan jenis barang apa saja yang dapat di daur ulang sehingga dapat dimanfaatkan kembali dalam upaya mengenalkan anak pada upaya penyelamatan lingkungan.
Selanjutnya kami mengharapkan bantuan segenap pihak untuk membantu kami dalam menambah koleksi buku bacaan anak melalui program donasi “Buku Sahabat Anak”

Senin, 20 Juni 2011

Buka Wawasan dengan Gerobak Baca

Kemajuan bangsa dan pencapaian kesejahteraan sosial ekonomi, tak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Sumber daya manusia berkualitas, memiliki ketrampilan dan pengetahuan, serta menguasai teknologi akan dilahirkan dari dunia pendidikan yang memadai pula.
Ironisnya, program wajib belajar pendidikan dasar yang telah berjalan lebih dari dua dasawarsa, hingga kini fasilitas penunjang program pencerdasan bangsa itu, seperti ruang kelas, buku-buku pelajaran, maupun referensi pustaka lainnya, belum terpenuhi secara maksimal. Di beberapa tempat masih dijumpai anak-anak yang menempuh pendidikan dasar, bersekolah di tempat yang sangat bersahaja, dengan fasilitas penunjang seadanya.
Adalah sosok Anisa, seorang anak perempuan berusia 11 tahun asal Desa Tegal Rejo, Pekalongan, Jawa Tengah. Anak keempat dari enam bersaudara ini, setiap hari membantu ibunya, Mak Inah, yang mencari nafkah sebagai tenaga lepas pada salah satu industri rumah tangga pembuatan kain batik. Upah ibunya sebagai tukang nyoret batik, istilah setempat, digabung dengan upah sang ayah sebagai penarik becak, tak lebih dari 10 ribu rupiah sehari. Uang itu digunakan untuk menghidupi Anisa dan ke-5 saudaranya. Penghasilan yang jauh dari mencukupi itu, tentu tak bisa memenuhi keinginan gadis cilik ini untuk membeli buku, sekedar untuk menambah pengetahuan lain.
Kondisi memprihatinkan seperti yang dialami oleh anak-anak dari keluarga pra sejahtera itu, membuat nelangsa hati Sri Widiati.

Bersama suami dan dua orang anaknya, Sri Widiati tahun 1985 mendirikan perpustakaan kecil di rumahnya, di kawasan Panjang Wetan, Pekalongan Utara, berdekatan dengan perkampungan nelayan. Sebagai wujud bakti kepada sang ibu, perpustakaannya ia beri nama seperti nama ibundanya, Dimurti. Koleksi awal sebanyak 96 buku, sebagian besar berupa buku cerita anak-anak, beberapa majalah anak, serta buku-buku umum.
Bagi mereka yang meminjam buku-bukunya, tidak dikenakan biaya apapun. Saat itu yang penting bagi wanita kelahiran Yogyakarta 50 tahun silam ini, adalah menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak nelayan. Karena bukan hal yang mudah untuk memberi pengertian kepada mereka, akan pentingnya membaca untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Setelah berjalan cukup lama, usaha keras Sri Widiati mulai menampakkan hasil. dari tahun ke tahun, pembaca di perpustakaannya semakin bertambah, begitu pula dengan jumlah buku koleksinya. ibu dua anak yang juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil kantor Pemda Kota Pekalongan ini, menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menambah koleksi perpustakaannya.
Lima tahun kemudian timbul gagasan di benak Sri Widiati untuk lebih mendekatkan minat baca masyarakat,dengan cara mendatangi pembaca secara aktif. Ide ini timbul setelah koleksi pustaka semakin banyak, sementara tempat penyimpanan tak memadai lagi. Tercatat hingga november 2004, terdapat koleksi buku fiksi dan non fiksi sebanyak 5.204 eksemplar, serta 2.015 eksemplar majalah.
Digunakannya nama gerobak baca, adalah untuk menarik masyarakat mendekati. Gerobak adalah nama yang merakyat, dan merupakan benda yang unik, serta menarik dari segi bentuknya. Dari segi perawatan, tak memerlukan perawatan khusus. Awalnya, Sri Widiati meluncurkan dua unit gerobak baca, masing-masing memiliki koleksi buku hingga 50 eksemplar. Gerobak baca ini pengelolaannya dipercayakan kepada kelompok-kelompok baca yang masuk dalam jaringan perpustakaan masyarakat di Pekalongan. Dari data pengunjung, tercatat hingga 300 orang yang mendatangi gerobak baca ini setiap bulannya. Dan setiap dua minggu hingga satu bulan sekali, buku-buku di gerobag baca ini ditukar dengan koleksi yang lain.

Sri Widiati, berkeinginan untuk terus mengembangkan gerobak baca-nya. Sayangnya masalah biaya menjadi kendala. Untuk satu gerobag baca, setidaknya dibutuhkan biaya pembuatan sebesar 750 ribu rupiah, belum termasuk koleksi buku-bukunya. Sri Widiati menaruh harapan besar, gerobak baca-nya ini di masa mendatang, akan terus dikembangkan. Tak hanya tersebar di kota Pekalongan saja, ia juga ingin mengembangkannya ke luar daerah. Ia optimis, budaya baca di kalangan generasi anak-anak akan terus tumbuh. Dengan daya pikir yang kreatif, banyak cara untuk mencerdaskan anak bangsa, salah satunya melalui gerobak baca, sang jendela dunia.
PERPUSTAKAAN DIMURTI / GEROBAK BACA Perum Bina Griya Jl. Mangga No. 315 Pekalongan 1111

Jumat, 06 Mei 2011

TBM@MALL di Depok Terbaik dan Terlengkap

TAMAN Bacaan Masyarakat di Mall atau TBM@Mall akhirnya berdiri di Kota Depok, Kamis lalu di Depok Town Square. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional meresmikan pendirian TBM@Mall ke 23 tersebut yang merupakan TBM terbesar di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, Hamid Muhammad menyatakan kebanggannya atas kehadiran TBM@Mall di depok. ”TBM@Mall ini merupakan langkah nyata mencerdaskan bangsa ketimbang berwacana atau berdiskusi, semacam talkshow di televisi, ” ujarnya.
Menurut Hamid, TBM@Mall di Detos ini merupakan TBM@Mall terbesar dari sisi luas, terlengkap dalam koleksi buku, dan berlokasi paling strategis dibanding TBM@Mall lainnya yang sebelumnya sudah berdiri di Jakarta, Bandung, Serang, Surabaya, Mataram, Binjai, dan lainnya.
TBM@Mall di detos ini berada di lantai 3, satu lantai dengan food court, tempat billiar dan arena rekreasi pengunjung mall. Dalam TBM yang juga berfungsi sebagai Balai Belajar Bersama ini, pengunjung tidak hanya dapat membaca berbagai buku pengetahuan dan terapan, tapi juga bisa belajar fotografi, memasak, merajut, dan berbagai keterampilan lainnya. Dikatakan Hamid, TBM@Mall merupakan salah satu program Kemendiknas untuk meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia. ”Membudayakan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia susah sekali. Rakyat kita lebih senang dengan budaya berbicara daripada membaca,” katanya.
Hamid menggambarkan, skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia adalah 402, dibawah skor rata-rata negara yang termasuk Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). ”Indonesia menempati ranking ke 57 dari 62, dibawah Montenegoro, Yordania, dan Tunisia,” lanjutnya.
Maraknya acara talkshow di statiun televisi, lanjut Hamid, merupakan cermin budaya berbicara lebih kuat di masyarakat Indonesia ketimbang budaya membaca.
Informasi beroperasinya TBM di Depok Town Square Mal, cepat meluas. Apresiasi pengujung pusat perbelanjaan modern terhadap fasilitas itu cukup tinggi. Diamdiam warga yang datang itu punya sederet alasan. Ada yang sekadar ingin tahu, bersantai sampai mendalami aktivitas di TBM. ”Saya dengar dari teman-teman, di mal ini ada perpustakaan. Begitu saya datangi, ya…lebih menarik,” papar Suryono, warga Cilodong, Depok. Ayah satu putra ini sengaja datang ke TBM Mal bersama putranya, Gilang.
Karena anak semata wayangnya itu sangat gemar membaca buku. Terlebih jenis komik. ”Kalau saya bawa ke toko buku kan, nggak enak. Buku untuk dijual kok dibaca-baca. Nah, di TBM ini bisa baca sambil santai. Lumayan liburan murah,” terangnya sambil tersenyum. Berbeda pula pendapat pengunjung lainnya. Mereka memilih datang ke TBM Mal untuk mencari tahu kegiatan yang disediakan. Ada pula yang mencari literatur tambahan bagi penyelesaian tugas kuliah. ”Kalau ke mal sudah sering. Denger ada mal yang punya taman bacaan. Penasaran dan coba cek. Ternyata seperti ini,” tegas Desy Humairah, mahasiswa Uhamka, Jakarta. Kedatangan mahasiswa psikologi ke Kota Depok itu awalnya mengunjungi perpustakaan UI. Tapi melenceng ke TBM Mal. ”Kreatif idenya. Saya rasa ini cocok buat alternatif kunjungan ke mal,” ungkapnya sambil kembali mencari buku.
Memang TBM Mal terasa unik. Tak hanya fasilitas dan suasana yang nyaman, tapi ada sederet aktivitas komunitas yang ikut dompleng di TBM Mal tersebut. ”Ada kursus menyulam, melukis buat anakanak, menulis sampai fotografi,” jelas Fauzie, pengelola TBM Mal Detos. Pesertanya pun, terang dia, beragam. Beberapa kegiatan itu dikategorikan berdasarkan usia. Sehingga proses diskusi dan pemberian materi menjadi lebih mudah. Hasil karya komunitas itu pun, sambung dia lagi, banyak dipamerkan. Setidaknya menghiasi dinding dan ruang di TBM mal. Agar pengujng lain dapat melihat karya komunitas kreatif TBM Mal. Dengan kegiatan tersebut, Fauzie mengharapkan alasan mengunjungi TBM Mal semakin banyak. Tidak hanya mencari literatur, membaca buku, bersantai dan sekedar mencari informasi saja. ”Pengunjung harus punya banyak alasan datang ke sini. Itu yang membuat mereka jadi lebih betah dan nyaman di TBM Mal,” cetusnya.
Kemdiknas menargetkan lima ribu taman bacaan akan didirikan di ruangruang publik, terutama mal. “Kami akan membangun perpustakaan, termasuk taman bacaan di pusat-pusat keramaian, seperti mal-mal, dan pusat bacaan masyarakat di beberapa daerah,” ujar Dirjen Pendidikan Formal, Informal, dan Nonformal Kemdiknas Hamid Muhammad. Hamid menambahkan selain untuk meningkatkan minat baca, upaya itu juga merupakan solusi bagi masyarakat yang selama ini kesulitan menjangkau buku-buku yang harganya terbilang mahal. Hingga saat ini, jumlah taman bacaan di mal yang dikenal dengan Taman Bacaan Masyarakat @Mall (TBM@Mall) itu telah mencapai 24 unit dan tersebar di beberapa daerah di Tanah Air.
Pendirian TBM@Mall itu, menurut Ella Yulaelawati, Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendiknas, dimaksudkan pula untuk “mendekatkan” buku kepada masyarakat, terutama remaja. Alasannya cukup sederhana, berdasarkan survei diketahui bahwa 50 persen pengunjung mal adalah kalangan remaja. Meskipun sasaran utama TBM@ Mall para remaja, di tempat itu disediakan pula kids corner, yakni fasilitas bermain anak-anak yang edukatif.
Fasilitas itu juga terbuka bagi anakanak luar sekolah dan anak jalanan yang ingin singgah sementara untuk membaca buku atau dapat pula digunakan sebagai galeri pameran. Menurut Hamid, pengelolaan TBM@Mall itu diserahkan pada pihak Kemdiknas bekerja sama dengan beberapa mal dan yayasan. Adapun pihak yang ditunjuk sebagai konsultan dalam pendirian dan pengelolaannya adalah Hughes International Foundation. Menurut Dewi Hughes, pemilik yayasan yang juga aktivis pendidikan dan anti perdagangan manusia, sudah saatnya dilakukan terobosan baru yang kreatif untuk mendongkrak minat baca masyarakat.   Saat ini, Mal sudah menjadi pusat peradaban.

Minggu, 17 April 2011

Mantan PRT yang memiliki Taman Bacaan dengan koleksi 1900 judul

Meski Kiswanti bukanlah berasal dari keluarga yang mapan, namun ia tetap mampu mewujudkan bentuk kepeduliannya terhadap orang lain. Melalui taman bacaan yang didirikannya, Kiswanti bisa diibaratkan bagai sebuah pelita yang mampu menerangi suramnya suasana kampung Saja, Parung, Kabupaten Bogor. Bagaimana perjuangan Kiswanti dalam meningkatkan minat baca warga di kampungnya?


Hari Rabu (11/7) sore, Realita melakukan perjalanan yang cukup melelahkan menuju daerah Parung, Kabupaten Bogor. Kampung Saja-nama kampung tempat tinggal Kiswanti, terletak di daerah Parung sekitar 5 KM dari Pasar Parung. Jalanan yang penuh dengan bebatuan harus dilalui hanya untuk menuju kediaman Kiswanti. “Rumahnya di blok Jawa,” ujar salah satu warga ketika Realita menanyakan rumah Kiswanti. Kampung Saja ternyata tak hanya ditempati oleh warga asli Sunda saja. Namun, kaum pendatang yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur juga menempati kampung ini. Akhirnya sebuah rumah yang terlihat sederhana nampak dari kejauhan. Rumah tersebut terletak tepat di tikungan gang yang hanya memiliki lebar satu meter.
Rumah itu terlihat lebih istimewa ketimbang rumah-rumah lainnya yang berada di Kampung Saja. Bukan karena bangunan rumahnya yang agak lumayan bersih dibandingkan rumah lainnya, tapi juga karena adanya bangunan yang berada tepat di sebelahnyalah yang membuat rumah tersebut lebih istimewa. Bangunan yang dijadikan sebagai taman bacaan itulah yang mampu menarik anak-anak dan ibu rumah tangga sekitar untuk mampir dan membaca lembaran demi lembaran halaman buku yang menjadi koleksi di taman bacaan tersebut. Untuk membaca buku atau bahkan meminjam salah satu buku koleksi Taman Bacaan milik Kiswanti, mereka tak perlu merogoh koceknya. Mereka cukup mencatat data dirinya masing-masing, dan buku-buku yang ingin mereka pinjam pun dapat langsung dibawa.

Anak Tukang Becak. Memberi di saat kekurangan adalah yang kini dilakukan oleh wanita berkerudung ini. Bukan harta berlebih yang membuat Kiswanti mengambil keputusan untuk meletakkan tangannya di atas tangan orang lain. Ia juga tak melakukannya hanya untuk menjadi terkenal di kalangan masyarakat luas. Hanya satu alasan yang berada di balik segala tindak tanduknya dalam mendirikan taman bacaan. “Saya hanya ingin meningkatkan minat baca warga kampung sini (Kampung Saja, Red) melalui taman bacaan ini,” ujarnya tegas ketika menyambut kedatangan Realita sembari memperlihatkan taman bacaan sederhananya.

Sosok wanita kelahiran Bantul 4 Desember 1965 ini hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tinggal di pinggiran Jakarta. Meski hanya ibu rumah tangga biasa, Kiswanti ternyata mampu memperlihatkan sisi dirinya yang sangat bersahaja. Kiswanti sendiri merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Tresno Suwarno (69) dan (alm) Tumirah. Sang ayah hanya berprofesi sebagai seorang penarik becak. Sedangkan ibunya merupakan pedagang jamu gendong. Tak pelak, kehidupan Kiswanti tidaklah selalu berkecukupan. Keluarga Kiswanti hanya mengandalkan penghasilan dari kedua orang tuanya yang pas-pasan. Bahkan biaya SPP untuk sekolahnya di SDN Kepuh, Bantul, sempat tidak terbayarkan selama lima bulan. Alhasil, Kiswanti hampir saja tidak naik kelas hanya gara-gara tidak mampu melunasi iuran SPP sekolahnya. Namun, berkat kebaikan dari pihak sekolah, akhirnya Kiswanti mampu menyelesaikan sekolah dasarnya. Meski demikian, selama Kiswanti menyelesaikan bangku pendidikan SD-nya, ia mengaku sering mendapat ejekan dari teman-temannya. “Mereka mengejek saya orang miskin yang nggak bisa bayar iuran sekolah,” kenang Kiswanti. Tak ayal, Kiswanti kecil selalu berurai air mata tiap kali pulang sekolah.

Meski dengan ejekan dari teman-teman sekolahnya, Kiswanti akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan SD-nya. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikannya ke Madrasah. “Saya di madrasah hanya sampai kelas 2 saja, karena ketiadaan biaya,” ungkap Kiswanti yang juga mengidap penyakit liver ini. Walaupun Kiswanti harus rela meninggalkan bangku sekolahnya, tapi ia tak pernah mengurungkan niatnya untuk belajar. Salah satunya adalah dengan banyak membaca berbagai macam judul buku. Buku-bukunya pun bukanlah buku baru yang ia beli dari toko buku, melainkan buku bekas yang selalu dibawakan oleh sang ayah setiap pulang menarik becak. Tak hanya buku, koran bekas juga selalu menjadi buah tangan Tresno untuk anak sulungnya tersebut.

Semakin hari, kegemaran Kiswanti membaca buku semakin menjadi-jadi. Buku telah menjadi sahabat karibnya sehari-hari. Kegemarannya membaca buku ternyata didorong juga oleh kedua orang tuanya. Pasalnya, ketika masih kanak-kanak, ibundanya mengajarkan membaca kepada Kiswanti dengan cara yang unik. “Si Mbok (Ibu, Red) saya itu mengajarkan membaca dengan menggunakan koran bekas, dan disuruh menyusun huruf-huruf supaya jadi nama saya,” kenang Kiswanti. Uniknya, sang ibu menyembunyikan salah satu huruf dari nama Kiswanti agar ia dapat dengan cermat mencari huruf yang hilang tersebut. Dengan begitu, kemampuan belajar mengenal huruf-huruf dapat terasah dengan baik.

Selepas meninggalkan sekolahnya, Kiswanti memang dituntut untuk membantu kedua orang tua membiayai keempat adik-adiknya. Tak heran, ia mencari penghasilan sampingan untuk membantu penghidupan keluarga. Pekerjaan memotong padi, membuka kulit kacang melinjo dan kedelai pun dilakoninya untuk mencari penghasilan tambahan. Uang yang didapat, diakui Kiswanti memang tak seberapa. “Untuk membuka kulit kacang melinjo, saya mendapatkan upah Rp 1.000 per Kg,” ungkap Kiswanti. Tak hanya itu saja, Kiswanti juga membawahi pekerja yang mengupas kulit melinjo. Sehingga, ia pun mendapatkan bonus dari si empunya. Singkat cerita, pada tahun 1987 Kiswanti terbujuk oleh salah satu temannya yang sudah merantau ke Jakarta. “Ada teman saya yang mengajak ke Jakarta untuk bekerja,” kenang Kiswanti. Ia akhirnya tertarik untuk ikut merantau ke Jakarta dan mencari penghidupan yang lebih layak. Meski begitu, ada satu alasan menarik yang menjadi latar belakang Kiswanti merantau ke Jakarta. “Saya ingin mencari uang ke Jakarta supaya bisa beli buku,” ujarnya singkat. Kegilaannya terhadap buku, membuat Kiswanti rela meninggalkan keluarganya hanya untuk menambah koleksi bukunya.

Terbentur dengan latar pendidikannya yang hanya lulus SD, Kiswanti pun tak dapat memperoleh pekerjaan yang mumpuni. Alhasil, Kiswanti hanya mampu bekerja sebagai seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT). Beruntung, kali pertama ia mendapatkan majikan, yang juga memiliki hobi sama dengan dirinya, yang tak lain adalah membaca buku. Banyak buku yang berhasil ia dapatkan dari majikannya yang berasal dari Negara Philipina. Sayangnya, Kiswanti hanya bekerja selama tiga bulan dikarenakan sang majikan kembali ke Negara asalnya. Setelah itu, Kiswanti bekerja kembali menjadi seorang PRT di salah satu keluarga asal Surabaya. Pada saat itulah, Kiswanti bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, yakni Ngatmin (53). Pernikahan dengan Ngatmin menghadirkan dua orang anak yakni Afief Priyadi (17) dan Dwi Septiani (12).

Tinggal di Bedeng Proyek. Pertemuan dengan sang suami pun dirasa cukup unik, karena Ngatmin sendiri bekerja sebagai kuli bangunan yang tengah mendirikan sebuah rumah di dekat rumah majikan tempat Kiswanti bekerja. Seringnya bertemu membuat keduanya dilanda api cinta. Tak pelak, mereka memutuskan untuk menikah di tahun yang sama ketika Kiswanti pindah ke Jakarta. Pekerjaan PRT kemudian ditinggalkan Kiswanti. Ia memutuskan untuk mengikuti pekerjaan sang suami yang tinggalnya berpindah-pindah. “Kami tinggalnya di bedeng-bedeng dan selalu berpindah sesuai proyek suami,” ujar Kiswanti yang selalu membawa koleksi bukunya setiap kali berpindah tempat tinggal.

Setelah beberapa tahun hidup di bedeng, Kiswanti kemudian mengontrak rumah di Jakarta selama enam bulan. Barulah pada tahun 1994, Kiswanti pindah ke daerah Parung, Jawa Barat. Di daerah tersebut Ngatmin membeli sebidang tanah beserta bangunan rumah yang sederhana. Dengan harga Rp 10.000 per meter persegi, Ngatmin membeli tanah dan rumah seluas 4 x 9 meter. Uang yang dipergunakan untuk membelinya pun didapat dari hasil tabungan keluarga selama beberapa tahun bekerja sebagai seorang kuli bangunan.

Di Parung, perasaan Kiswanti sangatlah miris ketika melihat kondisi di kampungnya yang sangat kurang memiliki minat baca terhadap buku. Terlebih lagi waktu itu, jaringan listrik dan telepon belum masuk ke kampung di daerah Parung tersebut. “Saya sedih melihat nasib anak-anak di sini yang tidak suka membaca dan didikan dari orang tua yang sangat kurang karena orang tua yang bekerja,” tutur pengoleksi buku sejak SD ini. Ia lalu mengambil tindakan yang cukup berani dengan membuka sebuah warung kecil untuk menarik anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga agar mereka sudi untuk mampir dan melihat koleksi buku bacaan Kiswanti. Strategi yang digunakan Kiswanti adalah dengan menurunkan harga jual barang-barang jualannya agar warga sekitar lebih memilih berbelanja di warungnya ketimbang di warung lain. Dengan begitu, mereka dapat melihat ribuan buku koleksi Kiswanti yang berada di rak dekat dengan warungnya. Selain itu, Kiswanti juga menawarkan berbagai macam mainan anak-anak untuk menarik minat anak-anak sekitar.

Strategi tersebut tak disangka cukup berhasil menarik minat warga untuk sekadar melihat dan membaca buku-buku koleksi Kiswanti. Waktu terus berjalan, Kiswanti lalu mengambil keputusan yang cukup unik dengan menawarkan buku-buku koleksinya dengan cara berkeliling. Sepeda pun menjadi alat transportasi yang digunakannya untuk berkeliling kampung sejauh 13 KM. Sejak Januari hingga September 2003, Kiswanti selalu melakukannya setiap hari dari pagi hingga sore. Kini pun, Kiswanti masih tetap meluangkan waktu untuk berkeliling setiap hari Rabu dan Sabtu. Tak puas dengan hasilnya, Kiswanti kemudian memiliki rencana untuk membangun sebuah taman bacaan yang lebih bagus dan luas agar mampu menampung banyak pengunjung. Akan tetapi, lagi-lagi rencana tersebut terhalang oleh persoalan dana yang terbatas. Kiswanti pun memutar otaknya agar mampu mendapatkan uang yang cukup untuk mendirikan bangunan taman bacaan yang baru. Salah satu cara yang ditempuh oleh ibu dua anak ini adalah dengan menggunakan tabungan kedua anaknya dan menjual motor milik Ngatmin. Sisanya berasal dari pinjaman dari salah seorang di kampungnya. Alhasil, bangunan Warung Baca Lebak Wangi (Warabal, pen) pun terwujud. Dua buah rak besar menghiasi sudut Taman Bacaan tersebut. Ratusan bahkan ribuan buku tertata rapi di dalamnya. Beberapa meja kecil juga terpasang di dalam ruangan tersebut.

Berbagai Kegiatan. Setelah berdiri, taman bacaan Warabal memang terlihat rapi dan bersih. Banyak kegiatan dilakukan di tempat itu. Hampir setiap hari, pengajian dilaksanakan di ruangan yang berada tepat di samping rumah Kiswanti. Tengok saja tiap hari setiap pukul 08.00-10.00 pagi, ada anak-anak usia 3-4,5 tahun yang mengikuti pendidikan dari seorang guru. Kiswanti menyebutnya sebagai homeschooling. Lalu pukul 12.00-16.00 sore harinya ada pengajian bagi anak-anak usia 3-6 tahun. Kemudian selepas maghrib, masih ada pengajian untuk anak-anak usia 6-18 tahun. Tak hanya anak-anak saja yang meramaikan Warabal, ibu-ibu rumah tangga pun memiliki jadwal sendiri untuk sekadar berkumpul dan menambah pengetahuannya masing-masing. Sebulan dua kali, ibu-ibu yang tergabung dalam 25 majelis ta’lim di Kampung Saja, kerap berkumpul dan membedah buku yang mereka sukai. “Kalau ibu-ibu, dinamakan Majelis Ta’lim Silaturahmi Bulanan,” ujar Kiswanti.

Kumpulan ibu-ibu itu membahas pengetahuan umum seperti pendidikan anak, kesehatan, dan agama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. “Kami juga sering menghadirkan berbagai narasumber untuk menambah pengetahuan ibu-ibu,” aku Kiswanti. Tidak seperti anak-anak yang sebagian besar tidak dipungut biaya, maka khusus untuk ibu-ibu, Kiswanti mewajibkan setiap orang untuk membayar iuran sebesar Rp 5.000 setiap kali pertemuan diadakan. Dari uang lima ribu tersebut, Rp 2.000 digunakan untuk uang kas, Rp 2.000 untuk konsumsi dan sisanya digunakan untuk keperluan bersama, seperti membeli buku ataupun kegiatan lainnya.

Kini, segala macam bentuk kegiatan tersebut selalu berjalan setiap hari. Meski kondisi keuangannya kembang kempis, namun Kiswanti selalu mengusahakan untuk menyediakan uang bagi keperluan Warabal. Hanya satu harapan yang masih berada dalam pikiran Kiswanti, yakni memperkenalkan buku kepada warga di kampungnya serta meningkatkan minat baca yang pada akhirnya akan meningkatkan pengetahuan mereka. Dengan serba kekurangan yang dimilikinya, Kiswanti juga berharap dapat meningkatkan Warabal. “Saya ingin mendirikan taman bermain gratis untuk anak-anak di sini,” ujarnya sembari berharap keinginannya dapat terwujud sesegera mungkin. 

Dibayar dengan Buku Saat Menjadi PRT

Tahun 1987, ketika Kiswanti memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan berprofesi sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), kegemarannya membaca dan mengoleksi buku semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi, saat mengetahui sang majikan yang juga memiliki hobi sama dengan dirinya. Majikan yang diketahui bernama Marti ini memang diakui Kiswanti sebagai pengoleksi buku. Saat Kiswanti mengetahui bahwa majikannya memiliki hobi membaca buku, ia seakan-akan menemukan harta karun yang sudah terpendam lama.

Kiswanti seakan-akan diingatkan dengan tekadnya ke Jakarta yang hanya mencari penghasilan untuk membeli buku. Ia kemudian mengusulkan sesuatu yang cukup unik dan menarik kepada sang majikan. “Saya menawarkan kepada majikan saya, agar membayar gaji saya dengan buku saja,” aku Kiswanti. Bak gayung bersambut, sang majikan kemudian menyetujuinya dan setiap bulan selama kurang lebih tiga bulan, Kiswanti dibayar dengan beragam buku bacaan. Alangkah senangnya Kiswanti kala itu yang mampu menambah koleksi buku bacaannya. “Saya dulu sering ke Senen untuk membeli buku,” kenang Kiswanti.

Buku-buku yang menjadi upahnya ternyata bukanlah buku bekas yang harganya tidak seberapa, namun berbagai macam judul buku baru yang harganya cukup mahal. Sayangnya, sang majikan hanya tinggal di Jakarta selama tiga bulan. “Dia harus balik lagi ke Philipina,” aku Kiswanti. Meski begitu, Kiswanti mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari sang majikan yang mampu memberinya berbagai macam buku bacaan.

Kiswanti sendiri memang sangat tergila-gila terhadap buku. Bila anak kecil pada umumnya meminta uang di saat lebaran untuk membeli baju, maka lain halnya dengan Kiswanti yang justru meminta uang di saat lebaran untuk membeli buku bacaan baru. Bahkan setiap kali ia memperoleh uang dari kedua orang tuanya, ia selalu membelanjakan uang tersebut untuk membeli buku. “Si Mbok (Ibu dalam bahasa Jawa, Red) dan Bapak sempat takut saya menjadi gila karena terlalu menyukai buku bacaan,” kenang Kiswanti. Namun penilaian kedua orang tuanya tersebut kini tak terbukti. Dulu, sang ayah malah sempat berpesan kepada Kiswanti agar menekuni buku-bukunya karena menurut sang ayah, kelak di masa tua akan bermanfaat banyak. Kini, Kiswanti merasakan bahwa omongan ayahnya itu terbukti dengan adanya manfaat bagi banyak orang setidaknya bagi warga sekitar di kampungnya. Fajar

Side Bar 2:

Menunda Kuliah Anak Pertamanya Demi Taman Bacaan

Jika dibilang sebagai bentuk keegoisan, mungkin Kiswanti juga menyadarinya. Namun, bila dilihat dari segi manfaat dan sosial, tentu saja keputusan Kiswanti sangatlah tepat. Pasalnya, Kiswanti harus dengan rela menunda kuliah anak pertamanya, Afief Priyadi. “Uang tabungannya dipakai untuk membangun Warabal,” aku Kiswanti sembari meringis. Meski begitu, Afief dengan lapang dada mampu memaklumi keinginan ibundanya yang ingin memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar.

“Ya kalau kuliah bisa kapan saja,” kilah Kiswanti. Bahkan Afief yang lulus dari STM Pembangunan ini kini berencana untuk mencari pekerjaan agar mampu membiayai kuliahnya sendiri. Kiswanti sendiri memang merasakan kesedihan yang cukup dalam karena tak mampu mewujudkan keinginan anak sulungnya. Meski demikian, Kiswanti berjanji dalam dirinya bahwa suatu saat nanti akan memasukkan Afief ke bangku kuliah. “Tahun ini bersamaan dengan adiknya yang masuk SMP,” ujarnya beralasan. Afief pun harus dengan rela memendam keinginannya tersebut demi adik dan ibunya yang sangat dicintainya tersebut. Fajar

Side Bar 3:

Membawa 75 dari 155 Anak Didiknya Melihat Monas di Jakarta

Kiswanti bukanlah tanpa halangan dalam merealisasikan keinginannya untuk mendirikan taman bacaan. Selain halangan berupa keterbatasan dana, ia juga sempat dihujani berbagai ejekan dari sebagian warga di kampungnya. Salah satunya adalah setelah ia mengajarkan mengenai sejarah berdirinya Monumen Nasional (Monas) di Jakarta kepada anak-anak. Oleh karena sebagian besar anak-anak belum pernah melihat bentuk Monas, maka Kiswanti pun menyarankan agar mereka dapat menabung. Dengan begitu, mereka dapat membayar ongkos untuk pergi ke Monas.

Tak dinyana, anak-anak warga sekitar tersebut selalu meminta uang setiap kali mereka disuruh oleh orang tuanya. Tak pelak, banyak orang tua pun kesal dengan ajaran Kiswanti. Menurut mereka, karena didikan Kiswanti, anak-anak mereka menjadi sering meminta uang untuk ditabung. Kiswanti menjadi dibenci oleh warga sekitar. Ia lalu tidak habis akal. Kiswanti lalu menceritakan permasalahannya tersebut ke salah satu anggota komunitas 1001 buku. Singkat cerita, ada salah satu donatur yang mau membayarkan segala macam ongkos bagi 75 anak didik Kiswanti. “Yang boleh diajak hanya 75 dari 155 anak didik saya,” ungkap Kiswanti. Tak ayal, ia pun melaksanakan seleksi untuk menyaring anak-anak didiknya tersebut. Seleksi yang dilakukan meliputi tes pengetahuan dan tes sikap yang selalu dipantau Kiswanti. Tepat bulan April lalu, Kiswanti akhirnya mampu mewujudkan keinginan anak-anak didiknya untuk bisa melihat Monas dari dekat. “Saya sangat bahagia melihat mereka bahagia melihat monas,” ungkap Kiswanti.

Ejekan tak hanya berhenti sampai di situ saja, Kiswanti juga kerap dijuluki sebagai tukang rongsokan oleh sebagian warga Kampung Saja, Parung. Ejekan ini timbul karena mereka seringkali melihat Kiswanti membeli buku bekas dari tukang loak. “Saya sih bersabar saja,” ujarnya singkat. Kiswanti memiliki alasan tersendiri kenapa ia membeli buku dari tukang loak. “Kadang-kadang buku bekas di tukang loak itu masih bagus-bagus dan mahal,” ujar Kiswanti. Menurutnya, hal ini disebabkan karena PRT di rumah-rumah orang kaya di sekitar rumahnya sering menjual buku-buku milik majikannya tanpa sepengetahuan si pemilik. Alhasil, buku-buku tersebut terkadang dibeli oleh Kiswanti yang kemudian dijadikan sebagai koleksi Warabal. Tak heran, kini koleksi buku-buku di Warabal sudah mencapai angka 1900 buah. Ditambah lagi, dengan banyaknya sumbangan buku dari berbagai pihak. Fajar

Side Bar 4:

Dwi Septiani (12), Anak Bungsu Kiswanti

Sempat Kesal karena Diejek Anak Tukang Rongsokan

Kegemaran Kiswanti membeli buku-buku bekas dari tukang loak atau tukang barang rongsokan ternyata berdampak pula kepada anak keduanya, Dwi Septiani. “Saya sering diejek anak tukang rongsokan,” kenang Dwi. Tak pelak, Dwi pun sempat kesal dengan ejekan tersebut. Meski begitu, sang ibu tetap berusaha untuk menenangkan anak perempuan satu-satunya tersebut agar tetap sabar menerima ejekan dari sebagian teman-temannya. “Jangan dipikirin,” ujar Dwi sembari meniru ucapan ibunya ketika mengadu perihal ejekan tersebut.

Meski terkadang kesal dengan ejekan, di sisi lain, Dwi merasa bangga dengan ibu kandungnya itu. Pasalnya, berkat kegiatan ibunyalah, anak-anak di sekitar kampungnya lebih menyukai membaca buku. “Saya bangga lah,” ujar anak yang akan memasuki bangku SMP ini. Rasa bangganya itu tergambar jelas dari sosok Dwi. Ia kini sudah keukeuh dengan cita-citanya sebagai guru. Dwi beralasan bahwa ia ingin menjadi guru karena melihat tindakan sang ibu yang mampu mengajar meski hanya lulusan sekolah dasar. Untuk mencapai cita-citanya sebagai guru, Dwi telah bertekad untuk dapat merasakan bangku kuliah bila nanti saatnya tiba.

Hasil dari didikan Kiswanti juga tergambar jelas pada Dwi. Kiswanti yang dengan getolnya memperkenalkan buku sejak dini ini ternyata mampu membuat kedua anaknya termasuk Dwi mencapai prestasi yang cukup baik di sekolahnya. “Saya selalu mendapat rangking 1 di kelas,” kenang Dwi. Tidak hanya memperkenalkan buku saja, Kiswanti juga kerap mengajarkan kedua anaknya untuk selalu mengerjakan Pekerjaan Rumahnya sendiri. “Saya tidak pernah memberitahu jawabannya kepada anak saya,” aku Kiswanti. Tak heran, Dwi pun selalu berusaha untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan pada PR yang diberikan gurunya di kelas. Rencananya Dwi akan masuk ke SMPN 1 Parung. “Mudah-mudahan bisa diterima,” harap anak perempuan berkerudung ini. Fajar

Senin, 11 April 2011

Read Aloud Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku

Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya”
Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku sangat beragam mulai dari yang sifatnya mendidik sampai yang sifatnya menghibur. Selain itu, buku tak lekang oleh masa. Kita akan bertemu dan memerlukan buku sepajang hidup kita. Lalu apa yang akan terjadi bila anak-anak kita tidak mencintai buku? Hmm, yang paling sederhana dan mendesak dimasa-masa awal kehidupannya adalah kemungkinan mereka menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Betapa tidak, walaupun teknologi telah berkembang dengan pesat, buku tetap merupakan media utama dalam proses belajar.
Jika demikian apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku ya?
Banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara memumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).
Apakah read aloud berbeda dengan mendongeng?
Ya. Berdasarkan tujuannya kedua aktivitas tersebut adalah berbeda. Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.
Dikarenakan read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini, sedangkan pada aktivitas mendongeng buku tidak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.
Bagaimana cara melakukan read aloud?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memulai bercerita dengan teknik read aloud, yaitu:
  • Cari buku yang baik untuk anak dan diri kita. Dalam memilih buku ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:
  1. Sesuaikan panjang cerita dengan usia dan rentang perhatian anak. Dapat dimulai dengan cerita yang pendek, secara bertahap ke yang lebih panjang. Cobalah dengan 2 atau 3 buku cerita yang pendek terlebih dahulu.
  2. Pilih buku cerita yang bisa membuat kita senang, baik cerita atau ilustrasinya.
  3. Pilih cerita yang menarik, banyak dialog, menggambarkan beberapa keadaan, adventure, dan memiliki muatan emosional yang sesuai dengan usia anak dan latar belakang anak.
  4. Bacakan sebanyak mungkin buku cerita anak. Jika menemukan pengarang atau illustrator yang baik, cari beberapa judul dari mereka. Anak akan mempunyai pengarang favorit. Biarkan dia membaca berulang-ulang. Sementara tetap perkenalkan dengan yang buku dan pengarang lainnya.
  5. Cari buku yang mengambarkan keadaan sehari-hari.
  6. Perlu diperhatikan bahwa buku disebut baru, jika anak belum pernah mendengar.
  • Baca terlebih dahulu buku yang hendak kita bacakan ke anak kita
  • Pilih buku cerita sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak
  • Bila usia anak sudah memungkinkan, sertakan anak dalam pemilihan buku
  • Pilih buku diatas kemampuan baca anak tetapi dengan panjang cerita yang sesuai dengan ketahanannya mendengarkan cerita.
Bila tahap persiapan sudah dilalui dengan baik, maka selanjutnya adalah tahap pelaksanaan read aloud. Dalam tahapan ini ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan, yaitu:
  • Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang
  • Baca perlahan, ekspresif dan semenarik mungkin.
  • Usahakan menggunaan suara/intonasi berbeda sesuai karakter
  • Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraug,meringkik dll sesuai karakter (dalam cerita)
  • Tambahkan ‘body language’
  • Ketika hendak membacakan cerita:
  1. Tunjukkan halaman depan
  2. Sebutkan judulnya, nama pengarang dan ilustratornya
  3. Sebutkan tema utama buku yang akan dibaca seperti “buku cerita ini mengenai…”
  4. Mulai dengan membicarakan gambar yang ada dibuku atau dengan membolak-balikkan gambar. Bayi perlu dibantu membolak-balikkan buku sedangkan anak usia 3 tahun keatas sudah bisa melakukannya sendiri
  • Tunjukkan kata-kata dengan jari kita
  • Mulai dengan beberapa menit membaca, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan anak maka waktu membaca akan bertambah.
  • Bila perkembangan anak sudah memungkinkan maka ajukan pertanyaan seputar cerita
  • Pancing dengan beberapa pertanyaan, apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?
  • Biarkan anak bertanya mengenai cerita
  • Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap
  • Biarkan anak menceritakan ceritanya, diusia 3 tahun seorang anak sudah bisa menghafal cerita dan biasanya senang diberi kesempatan untuk bercerita.
Kapan sebaiknya mulai melakukan read aloud?
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Mengapa demikian? Ini terkait dengan tujuan read aloud yaitu menumbuhkan kecintaan pada buku. Sehingga semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal.
Kapan dan dimana sebaiknya kita melakukan read aloud?
Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukan read aloud. Kita bisa melakukannya dirumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, saat menunggu pesawat atau kereta api atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.
Apa ada referensi judul buku untuk read aloud?
Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. Namun bila diperlukan anda dapat merujuk kepada beberapa referensi berikut:
ü Judul : Camille pergi ke dokter
Penulis : Aline de Petigny & Nancy Delvaux
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.
ü Judul : Pierre nonton TV
Penulis : Gustavo Masali
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.
ü Judul : Untuk Bunda dan dunia
Penulis : Abdurahman Faiz
Penerbit : Dari Mizan.
ü Judul : 366 Hal-hal yang perlu anak anda ketahui
Penulis : Andree Bertino dan Fredo Valla
Penerbit : Happy Books
ü Judul : Kisah-kisah teladan untuk keluarga
Penulis : Dr. Mulyanto
Penerbit : GIP, 2008
Hmmm setelah menambah informasi tentang read aloud, diharapkan kita lebih memahami bahwa hal sesederhana membacakan buku singkat yang mungkin hanya memerlukan kurang lebih 20 menit setiap harinya, dapat membantu membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak.
Bila anda tertarik untuk memahami read aloud lebih menyeluruh ada dapat mengakses http://www.readingbugs.org dengan contact person ibu Roosie. Beliau juga dapat membantu anda dan guru-guru anak-anak anda bila tertarik mempelajari read aloud melalui workshop yang beliau dan reading bugs prakarsai.
Referensi:
Trelease, Jim. (2006). Read-Aloud Handbook. London: Peguin Books.
Roosie (2009). Bagaimana “read aloud” yang baik bagi orangtua dan pendidik usia balita. Dalam makalah seminar read aloud. Depok: Reading Bugs.

Minggu, 27 Maret 2011

Manfaat membacakan Buku Pada Anak Sebelum Tidur

Membacakan buku pada anak sebelum tidur mungkin sudah jarang dilakukan orangtua. Padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak didongengkan cerita sebelum tidur.

"Manfaat yang bisa didapatkan anak-anak dari rutinitas mendongengkan cerita sebelum tidur tidak hanya untuk intelektualnya saja, tapi juga secara emosional," ujar Dr Terri Apter, seorang psikolog sosial di University Cambridge, seperti dikutip dari HealthToday, Kamis (2/9/2010).

Dongeng atau membaca buku cerita sebelum tidur tidak hanya bermanfaat bagi balita dan anak-anak, karena kaum remaja pun masih bisa mendapatkan manfaatnya.

Ini dia beberapa manfaat yang bisa didapatkan melalui kegiatan mendongeng sebelum tidur, yaitu:

Membantu perkembangan bicara dan bahasa anak
Mengajarkan anak berbicara sudah bisa dimulai sejak awal kehamilan, karena orangtua yang mengajak anaknya berbicara akan direspons oleh otak anak dan berusaha untuk menyerap suara serta bahasa yang digunakan ibunya.

Jika kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur ini berlanjut, maka akan mendorong anak untuk berbicara dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Cara ini merupakan salah satu teknik belajar yang menyenangkan bagi anak.

Membantu menenangkan anak yang menangis
Membacakan dongeng sebelum tidur adalah salah satu cara penghilang stres yang efektif. Biasanya orangtua akan membacakan cerita dalam suasana santai dan nyaman, dramatisasi dengan membuat intonasi nada yang berbeda akan membuat anak tertarik untuk mendengarkan cerita. Lama kelamaan anak-anak akan merasa nyaman sehingga tingkat stresnya berkurang.

Membantu meningkatkan IQ anak
Pada anak yang baru belajar membaca, mendongengkan buku cerita yang sama berulang-ulang bisa membantunya mengajarkan bahasa, meningkatkan memori dan mengembangkan imajinasi. Saat pertama kali mendengarkan cerita, anak tidak bisa menangkap semuanya. Tapi jika diulang-ulang, maka anak akan memperhatikan pola dan urutan dari cerita tersebut.

Orangtua harus memperhatikan jenis buku cerita yang akan didongengkan pada anak, misalnya tidak boleh membacakan cerita yang terlalu merangsang atau menakutkan bagi anak. Serta lakukan dengancara yang positif dan menyenangkan agar bisa bermanfaat bagi anak.

Membantu anak agar cinta dengan buku
Membacakan sebuah cerita sebelum anak tidur akan membuat anak mencintai buku dan menjadi senang membaca. Jika anak sudah cinta dengan buku, maka anak akan melihat buku sebagai teman yang menyenangkan seperti halnya mainan. Buku merupakan salah satu media aktif yang dapat menjaga kerja otak anak dan membantu anak menjadi lebih kreatif.

Membantu mengembangkan keterampilan mendengarkan anak
Jika anak ingin memahami isi dari buku yang didongengkan, maka anak harus mendengarkan ceritanya. Karena itu anak akan menyiapkan pikirannya untuk menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan menciptakan kata sendiri untuk memahaminya. Jadi anak akan mendengarkan dengan seksama dan berusaha menguasai keterampilan ini. Selain itu,cara ini juga membantu meningkatkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Membantu anak memiliki pola tidur yang sehat
Ketika anak-anak sudah terbiasa mendengarkan cerita sebelum tidur, maka ritual nyaman ini akan menjadi alarm bagi anak bahwa setelah itu adalah saatnya tidur. Kondisi ini akan membantu anak memiliki jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya, karena itu dianjurkan untuk melakukan rutinitas ini pada jam yang sama sejak anak masih kecil.

Senin, 07 Maret 2011

Media Anak-Anak Alternatif Dan Budaya Baca Tulis

Sudah menjadi rahasia umum bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dibandingkan masyarakat negara lain. Hal ini ditengarai dengan relatif sepinya dunia perbukuanIndonesia. 
Meskipun sekarang dunia perbukuan mulai memperlihatkan tanda-tanda
kebangkitan, tapi masa depan industri buku masih menjadi dunia remang-remang yang penuh tanda tanya. Dan kegemaran membaca ini memiliki kaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sebab semakin besar kegemaran membaca sebuah bangsa, maka semakin semakin maju pula peradabannya. Bahkan ada ungkapan you are what you read.
Budaya (baca: kebiasaan) membaca tersebut tentu saja tidak muncul begitu saja, melainkan harus ditanam sejak dini. Semakin muda kebiasaan membaca ini ditanamkan, maka semakin baik pula. Namun, persoalannya banyak sekali kendala yang harus dilalui untuk mencapai kondisi ideal tersebut. Mulai dari keluarga hingga negara menjadi penghambat utama dalam penanaman kebiasaan membaca.
Dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah, maka bacaan anak menjadi barang yang sangat “mahal” bagi keluarga. Orangtua akan lebih memilih membeli beras ketimbang membelikan bacaan untuk anak. Logikanya tentu saja sangat sederhana: beras akan membuat keluarga bisa bertahan hidup, sedangkan bacaan tidak. Dan logika ini tentu saja meyakinkan dan masuk akal. Negara sendiri sepertinya tidak memiliki sensibilitas dalam hal budaya membaca ini. Hal ini terbukti dengan rendahnya jatah yang diberikan sebagai dana pendidikan—di dalamnya juga termasuk pengadaan bacaan untuk anak-anak—dalam APBN. Program wajib belajar dan peningkatan sumber daya manusia ternyata lebih sebagai “jual kecap” kabinet belaka. Sistem pendidikan hanya dimaksudkan untuk menciptakan robot-robot pekerja—yang memiliki catatan akademik bagus, tapi kualitas mental, emosional, dan penalarannya patut
dipertanyakan—dalam sistem pembangunan Indonesia.  Televisi dan Tradisi Oral Televisi juga termasuk salah satu faktor yang dituding sebagai penghambat budaya membaca. Dan itu ada benarnya karena kenyataannya anak-anak lebih senang menonton televisi dibanding membaca buku. Hal tersebut terjadi selain karena tidak adanya motivasi yang diberikan oleh keluarga dan negara, seperti yang sudah dijelaskan di atas, juga akibat kentalnya budaya oral dalam masyarakat Indonesia.
Dalam perjalanan peradaban bangsa Indonesia, tradisi oral menjadi faktor yang dominan. Pun ketika huruf sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia, budaya oral tidak juga goyah. Sementara, budaya literal tidak juga mengalami perkembangan yang signifikan. Tradisi menulis hanya merupakan pencatatan atau pengubahan bentuk tradisi lisan belaka. Dalam hal ini masih ada keterkaitan erat antara tradisi lisan dan tulis. Naskah-naskah sastra berbentuk tulisan
merupakan penulisan sastra lisan, dan dimaksudkan untuk dibacakan oleh pawang di depan khalayak (dioralkan).
Dalam lingkungan keraton (kerajaan) pun tradisi tulis ini tidak berkembang dengan baik. Penyebab utamanya adalah karena kultur mistis-feodal yang diciptakan oleh penguasa (raja).  Menulis, pada saat itu menjadi kemampuan “supranatural” yang hanya [pantas] dimiliki oleh Media Anak-Anak Alternatif dan Budaya Baca Tulis segelintir orang saja. Orang-orang di luar kalangan empu yang mandraguna itu tidak bisa dan tidak pantas melakukannya. Dalam perkembangannya lebih kemudian, tradisi tulis itu pun mengalami dekadensi karena hanya berisikan pujian-pujian terhadap penguasa (raja).
Kondisi tersebut semakin diperparah lagi saat zaman kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Tradisi tulis, bagi mereka merupakan tradisi yang kontraproduktif bagi sistem kolonial mereka—informasi yang datang dari negara-negara Barat berupa tulisan. Untuk mencegah masuknya informasi yang membangkitkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme, mereka sebisa mungkin berusaha menghambat perkembangannya. Pelajaran membaca diberikan kepada penduduk pribumi lebih karena dibutuhkannya tenaga-tenaga administratif dalam pangreh praja. Lagi-lagi kebiasaan membaca dan menulis hanya hidup dalam lingkungan yang sangat sempit, yaitu segelintir kalangan terdidik—hanya segelintir karena selain jumlah masyarakat terdidik pada masa kolonial sangat sedikit, dan dari sedikit orang itu sedikit pula yang memiliki kesadaran untuk memanfaatkan kemampuan membaca dan menulisnya dengan baik.
Lambannya perkembangan tradisi tulis dalam sejarah peradaban Indonesia selama berabad-abad itulah yang juga memengaruhi rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sekarang. Dan itu kemudian juga memengaruhi kuatnya kegemaran menonton televisi yang notabene adalah kelanjutan dari tradisi oral masyarakat.
Media Anak: Koran, Majalah, Tabloid, dan Buku Kebiasaan membaca pada anak sering kali tidak memiliki batasan yang jelas. Orang beranggapan bacaan apa pun bermanfaat bagi anak-anak. Dalam beberapa kasus pendapat ini ada benarnya.Namun, kualitas bacaan juga menjadi hal yang patut diperhatikan. Untuk membangun kualitas kognitif anak yang baik, diperlukan bacaan yang berkualitas pula. Oleh karena itu, bacaan di sekitar anak-anak harus dicermati baik-baik.
Banyaknya media yang ditujukan untuk anak-anak memang menjadi hal yang sangat bagus untuk perkembangan minat membaca anak-anak. Dengan mudah bisa kita temui majalah, tabloid, dan buku anak. Pertanyaannya adalah apakah media anak tersebut terjangkau oleh anak-anak? Buku anak, misalnya. Buku anak terhitung buku yang paling mahal dibanding buku untuk orang dewasa.  Juga majalah dan tabloid anak. Belum lagi kualitas majalah dan tabloid tersebut. Media tersebut dalam perkembangannya lebih banyak mengekspos gosip-gosip artis cilik atau artis yang digemari anak-anak. Sedikit yang berisikan cerita, dongeng, atau pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan kognitif dan kreativitas anak. Koran-koran pun sudah melirik anak-anak dengan memberikan halaman khusus untuk anak-anak. Namun, barangkali karena dianggap kurang marketable, maka ruang yang diberikan masih sedikit.
Media Alternatif Kita memang boleh saja bersikap sinis terhadap minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya, tapi tidak untuk minat baca anak-anak. Menurut hemat penulis, anak-anak memilikisemangat membaca yang sangat tinggi sebenarnya. Hanya saja, para orangtua cenderung Media Anak-Anak Alternatif dan Budaya Baca Tulis mengabaikannya.
Kalaupun mendukung, orangtua tidak memberikan arahan agar mereka memperoleh bacaan yang bagus kualitasnya. Dengan kondisi yang demikian, maka diperlukan media anak-anak yang bisa memecah
kebuntuan ini. Media alternatif ini tentu saja harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat pertama adalah media ini harus mudah diakses oleh anak-anak dari segala kalangan sosial. Artinya, anak-anak bisa memperolehnya tanpa harus merepotkan orangtua mereka yang sudah kalang kabut mengurusi dapur keluarga. Syarat kedua adalah media tersebut harus bagus mutunya. Dengan kata lain media itu harus komunikatif dan tidak meninggalkan aspek edukatif. Sebab media yang sekadar menghibur akan rendah kualitasnya karena memiliki landasan filosofis yang dangkal. Oleh karena itu, media anak-anak haruslah media yang bisa mengasah aspek penalaran dan kreativitas anak-anak. Sehingga anak-anak akan terbiasa berpikir jernih, rasional, logis dan mampu mengungkapkan ide-idenya dengan lugas—bukankah banyak anak muda sekarang yang tidak bisa mengungkapkan isi pikirannya dengan runtut, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan? Syarat ketiga, dan merupakan syarat yang paling penting, media alternatif tersebut harus digarap dengan serius dan berkelanjutan. Namun, pertanyaannya siapa yang mau berbesar hati mewujudkannya?

* pernah dipublikasikan di majalah Matabaca, 2005

Selasa, 01 Maret 2011

Gila buku, Kutu Buku atau Cinta Buku

Tulisan ini sudah lama sekali ingin kutulis… Buku bisa memunculkan penyakit jiwa pada seseorang. Gila buku waduh… apakah aku sudah sampai taraf ini… Jujur enggak deh kayaknya !!! (yang nilai gila atau enggak kan orang lain xixixixi :D ).

Biblioholisme adalah hasrat untuk membeli, membaca, menyimpan, dan mengagumi buku yang cenderung berlebihan. Ada dua jenis biblioholisme yaitu bibliomania (gila buku) dan bibliofil (cinta buku) yang dibedakan dari motivasi.

Bibliomania akan membeli buku hanya untuk ditumpuk tanpa dibaca. Contohnya Boulard, seorang ahli hukum asal Perancis yang hidup pada abad ke-18, begitu bernafsu membeli buku. Sampai rumahnya tak cukup untuk menampung buku-bukunya, bahkan ia membeli enam rumah lagi untuk buku-bukunya. Sampai meninggalnya, Boulard memiliki 600 ribu sampai 800 ribu jilid buku. Dan ketika diloakkan, semuanya baru habis setelah lima tahun. Kegilaannya adalah Boulard tak membaca buku-buku tersebut.

Sedangkan Bibliofil lebih banyak membeli buku dan mengharap dapat menguras isi dan kebijakan dari buku-bukunya, contohnya Richard Heber, asal Inggris dan hidup pada abad ke-19. Koleksinya yang berjumlah 200 ribu sampai 300 ribu buku, memaksa ia memiliki delapan rumah. Bedanya dengan Boulard, ia membeli dan selalu membaca buku-bukunya bahkan sampai akhir hayatnya.

Selain itu beberapa “penyakit jiwa” aneh menyangkut buku, ada bibliotaf, bibliokas, bibliofagi, dan biblionarsisis.

Seorang bibliotaf meminta saat ia mati nanti, ia dikuburkan dengan buku-bukunya, dengan peti mati terbuat dari kayu bekas rak bukunya. John Stewart meminta pembacanya menyimpan buku-bukunya dengan sebaik-baiknya. “Tempatkan dalam kotak anti-lembab, kuburkan sedalam tiga meter, dan rahasiakan tempatnya kecuali kepada orang kepercayaanmu,” imbaunya.

Penderita bibliokas inginnya menghancurkan buku. Pernahkah kita datang ke perpustakaan atau pinjam buku teman, lalu ada halaman yang menarik dan kita tak tahan jika tak memilikinya, karenanya kita menyobek halaman itu. Beberapa orang terkenal pun punya kecenderungan bibliokas. Chares Darwin membelah buku tebal menjadi dua agar mudah menentengnya kemana-mana.

Bibliofagi yaitu orang yang suka makan buku. Sebagian orang pernah membakar buku pelajaran, abunya dicampur kopi lalu diminum dengan harapan isi buku itu menghunjam ke otaknya.

Yang terakhir, dan paling banyak penderitanya, adalah biblionarsisis (biblionarcissist) yakni mengkoleksi buku hanya untuk berlagak, bermegah-megah, pamer, dan mengagumi diri sendiri. Menurut agama, itu riya’ (atau kita ganti saja istilahnya menjadi biblioriya’?).

Tulisan diatas disadur dari berbagai sumber :D .

Dan pada akhirnya aku bingung mengklasifikasikan diriku sudah sampai taraf mana, karena aku tidak seperti Boulard yang hanya beli buku dan tidak baca, belum juga seperti Richard Heber yang memiliki delapan rumah, tapi tidak menjadi orang makan buku dan minum buku hihihihii :D .

Yang pasti diriku suka membeli buku, membaca buku dan belum gila buku hihihi :D . Contoh kasus di bulan Januari kemarin, inilah buku yang kubeli selama 1 bulan.

Di Bulan Februari, Gramedia menggelar diskon 30 persen untuk seluruh item kecuali kertas photocopy. Ya udah, tambah banyak buku yang dibeli hihihi :D . Pasalnya 30 persen banyak, kalo buku yang harganya 200 ribu lumayan dapat potongan harga 60 ribu :D .

Belum lagi dapat tambahan 1 buku dari acara tuker buku bersama anak – anak wongkito . Selain itu di acara seminar di Masjid Pusri kemarin, aku membeli 3 buku Salim A Fillah dan langusng mendapatkan bubuhan tanda tangan di buku itu hihihihi :D plus ditambah 1 buku motivasi, lumayan buat tambah ilmu dan tambah koleksi.

Rata-rata buku yang dibeli sudah dibaca loh :D . Walau masih ada yang belum dibaca lantaran belum ada waktunya. Semoga diri ini terus mendapatkan pengetahuan dari setiap buku yang dibaca. Amien :D

Tag:Buku, cinta, Cinta Buku, Gila Buku, Iseng, Kutu Buku