Program donasi BUKU SAHABAT ANAK melalui rekening Bank BRI Unit Sumur Batu Kemayoran No. Rekening 0785-01-000864-50-7 An. Teguh Iman Santoso

Jumat, 06 Mei 2011

Kemdiknas Akan Kucurkan Dana BOP Untuk 6 Juta Anak Didik PAUD

JAKARTA (PAUDNI) – Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Hamid Muhammad menargetkan sebanyak 6 juta anak yang mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini akan memperoleh dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) pada 2012.
Hamid mengatakan upaya ini dilakukan untuk mempercepat layanan. “PAUD sudah menjadi gerakan nasional, sehingga akan dipercepat akselerasinya,” ucap Hamid saat menerima rombongan stakeholder PAUDNI Kabupaten Pandeglang di Kemdiknas, Kamis (7/4).
Ditjen PAUDNI juga akan merintis program PAUD terpadu. Taman kanak-kanak yang belum memiliki kelompok bermain dan TPA akan didorong untuk menyelenggarakan kedua layanan tersebut. Hamid juga meminta agar PAUD jangan saling berebut peserta didik. Jika di suatu daerah sudah ada TK/KB, maka jangan memaksakan untuk membuka yang baru. “Kecuali kalau daerah itu padat, tidak apa-apa,” katanya. 
Hamid menginginkan agar PAUD yang ada benar-benar berkualitas. “Saya hanya ingin melayani lembaga yang jelas. Kami memberikan block grant berdasarkan kompetensi dan kinerja,” tegasnya. Ia juga mengatakan sedang menyiapkan pelatihan guru PAUD secara besar-besaran yang akan digelar 2012. 
 
Memacu PKBM
Hamid berharap agar dinas pendidikan dan seluruh masyarakat ikut mengembangkan PKBM. Sebab life skills yang diberikan lembaga pendidikan ini bisa menjadi solusi untuk menciptakan lapangan kerja serta menekan angka pengangguran. Hamid menyebut jumlah pengangguran yang bergelar sarjana masih cukup banyak. Pada 2004 terdapat 585 ribu penganggur bergelar sarjana. Jumlah ini lantas meningkat menjadi 1,2 juta orang pada 2009. “Artinya ini meningkat dua kali lipat dalam lima tahun,” kata Hamid. 
Ia menuturkan, pemerintah akan mendukung pengembangan PKBM, salah satunya melalui pemberian dana block grant. Alokasi tersebut diberikan berbasis kinerja. PKBM yang berprestasi berpotensi memperoleh tambahan dana, sebaliknya yang buruk akan dikurangi. Hamid menyebutkan, ia telah mengurangi alokasi dana untuk sebuah provinsi, dari belasan miliar menjadi hanya Rp 1,5 miliar. Hal ini disebabkan dalam provinsi tersebut terdapat PKBM yang mendapat bantuan tambahan dari pemerintah daerah hingga menjadi Rp 1,5 miliar. “Jumlah ini tidak masuk akal, untuk apa dana sebesar itu,” katanya. 
(Yohan Rubiyantoro/KS)


Sumber:http://www.paudni.kemdiknas.go.id

Minggu, 17 April 2011

Mantan PRT yang memiliki Taman Bacaan dengan koleksi 1900 judul

Meski Kiswanti bukanlah berasal dari keluarga yang mapan, namun ia tetap mampu mewujudkan bentuk kepeduliannya terhadap orang lain. Melalui taman bacaan yang didirikannya, Kiswanti bisa diibaratkan bagai sebuah pelita yang mampu menerangi suramnya suasana kampung Saja, Parung, Kabupaten Bogor. Bagaimana perjuangan Kiswanti dalam meningkatkan minat baca warga di kampungnya?


Hari Rabu (11/7) sore, Realita melakukan perjalanan yang cukup melelahkan menuju daerah Parung, Kabupaten Bogor. Kampung Saja-nama kampung tempat tinggal Kiswanti, terletak di daerah Parung sekitar 5 KM dari Pasar Parung. Jalanan yang penuh dengan bebatuan harus dilalui hanya untuk menuju kediaman Kiswanti. “Rumahnya di blok Jawa,” ujar salah satu warga ketika Realita menanyakan rumah Kiswanti. Kampung Saja ternyata tak hanya ditempati oleh warga asli Sunda saja. Namun, kaum pendatang yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur juga menempati kampung ini. Akhirnya sebuah rumah yang terlihat sederhana nampak dari kejauhan. Rumah tersebut terletak tepat di tikungan gang yang hanya memiliki lebar satu meter.
Rumah itu terlihat lebih istimewa ketimbang rumah-rumah lainnya yang berada di Kampung Saja. Bukan karena bangunan rumahnya yang agak lumayan bersih dibandingkan rumah lainnya, tapi juga karena adanya bangunan yang berada tepat di sebelahnyalah yang membuat rumah tersebut lebih istimewa. Bangunan yang dijadikan sebagai taman bacaan itulah yang mampu menarik anak-anak dan ibu rumah tangga sekitar untuk mampir dan membaca lembaran demi lembaran halaman buku yang menjadi koleksi di taman bacaan tersebut. Untuk membaca buku atau bahkan meminjam salah satu buku koleksi Taman Bacaan milik Kiswanti, mereka tak perlu merogoh koceknya. Mereka cukup mencatat data dirinya masing-masing, dan buku-buku yang ingin mereka pinjam pun dapat langsung dibawa.

Anak Tukang Becak. Memberi di saat kekurangan adalah yang kini dilakukan oleh wanita berkerudung ini. Bukan harta berlebih yang membuat Kiswanti mengambil keputusan untuk meletakkan tangannya di atas tangan orang lain. Ia juga tak melakukannya hanya untuk menjadi terkenal di kalangan masyarakat luas. Hanya satu alasan yang berada di balik segala tindak tanduknya dalam mendirikan taman bacaan. “Saya hanya ingin meningkatkan minat baca warga kampung sini (Kampung Saja, Red) melalui taman bacaan ini,” ujarnya tegas ketika menyambut kedatangan Realita sembari memperlihatkan taman bacaan sederhananya.

Sosok wanita kelahiran Bantul 4 Desember 1965 ini hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tinggal di pinggiran Jakarta. Meski hanya ibu rumah tangga biasa, Kiswanti ternyata mampu memperlihatkan sisi dirinya yang sangat bersahaja. Kiswanti sendiri merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Tresno Suwarno (69) dan (alm) Tumirah. Sang ayah hanya berprofesi sebagai seorang penarik becak. Sedangkan ibunya merupakan pedagang jamu gendong. Tak pelak, kehidupan Kiswanti tidaklah selalu berkecukupan. Keluarga Kiswanti hanya mengandalkan penghasilan dari kedua orang tuanya yang pas-pasan. Bahkan biaya SPP untuk sekolahnya di SDN Kepuh, Bantul, sempat tidak terbayarkan selama lima bulan. Alhasil, Kiswanti hampir saja tidak naik kelas hanya gara-gara tidak mampu melunasi iuran SPP sekolahnya. Namun, berkat kebaikan dari pihak sekolah, akhirnya Kiswanti mampu menyelesaikan sekolah dasarnya. Meski demikian, selama Kiswanti menyelesaikan bangku pendidikan SD-nya, ia mengaku sering mendapat ejekan dari teman-temannya. “Mereka mengejek saya orang miskin yang nggak bisa bayar iuran sekolah,” kenang Kiswanti. Tak ayal, Kiswanti kecil selalu berurai air mata tiap kali pulang sekolah.

Meski dengan ejekan dari teman-teman sekolahnya, Kiswanti akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan SD-nya. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikannya ke Madrasah. “Saya di madrasah hanya sampai kelas 2 saja, karena ketiadaan biaya,” ungkap Kiswanti yang juga mengidap penyakit liver ini. Walaupun Kiswanti harus rela meninggalkan bangku sekolahnya, tapi ia tak pernah mengurungkan niatnya untuk belajar. Salah satunya adalah dengan banyak membaca berbagai macam judul buku. Buku-bukunya pun bukanlah buku baru yang ia beli dari toko buku, melainkan buku bekas yang selalu dibawakan oleh sang ayah setiap pulang menarik becak. Tak hanya buku, koran bekas juga selalu menjadi buah tangan Tresno untuk anak sulungnya tersebut.

Semakin hari, kegemaran Kiswanti membaca buku semakin menjadi-jadi. Buku telah menjadi sahabat karibnya sehari-hari. Kegemarannya membaca buku ternyata didorong juga oleh kedua orang tuanya. Pasalnya, ketika masih kanak-kanak, ibundanya mengajarkan membaca kepada Kiswanti dengan cara yang unik. “Si Mbok (Ibu, Red) saya itu mengajarkan membaca dengan menggunakan koran bekas, dan disuruh menyusun huruf-huruf supaya jadi nama saya,” kenang Kiswanti. Uniknya, sang ibu menyembunyikan salah satu huruf dari nama Kiswanti agar ia dapat dengan cermat mencari huruf yang hilang tersebut. Dengan begitu, kemampuan belajar mengenal huruf-huruf dapat terasah dengan baik.

Selepas meninggalkan sekolahnya, Kiswanti memang dituntut untuk membantu kedua orang tua membiayai keempat adik-adiknya. Tak heran, ia mencari penghasilan sampingan untuk membantu penghidupan keluarga. Pekerjaan memotong padi, membuka kulit kacang melinjo dan kedelai pun dilakoninya untuk mencari penghasilan tambahan. Uang yang didapat, diakui Kiswanti memang tak seberapa. “Untuk membuka kulit kacang melinjo, saya mendapatkan upah Rp 1.000 per Kg,” ungkap Kiswanti. Tak hanya itu saja, Kiswanti juga membawahi pekerja yang mengupas kulit melinjo. Sehingga, ia pun mendapatkan bonus dari si empunya. Singkat cerita, pada tahun 1987 Kiswanti terbujuk oleh salah satu temannya yang sudah merantau ke Jakarta. “Ada teman saya yang mengajak ke Jakarta untuk bekerja,” kenang Kiswanti. Ia akhirnya tertarik untuk ikut merantau ke Jakarta dan mencari penghidupan yang lebih layak. Meski begitu, ada satu alasan menarik yang menjadi latar belakang Kiswanti merantau ke Jakarta. “Saya ingin mencari uang ke Jakarta supaya bisa beli buku,” ujarnya singkat. Kegilaannya terhadap buku, membuat Kiswanti rela meninggalkan keluarganya hanya untuk menambah koleksi bukunya.

Terbentur dengan latar pendidikannya yang hanya lulus SD, Kiswanti pun tak dapat memperoleh pekerjaan yang mumpuni. Alhasil, Kiswanti hanya mampu bekerja sebagai seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT). Beruntung, kali pertama ia mendapatkan majikan, yang juga memiliki hobi sama dengan dirinya, yang tak lain adalah membaca buku. Banyak buku yang berhasil ia dapatkan dari majikannya yang berasal dari Negara Philipina. Sayangnya, Kiswanti hanya bekerja selama tiga bulan dikarenakan sang majikan kembali ke Negara asalnya. Setelah itu, Kiswanti bekerja kembali menjadi seorang PRT di salah satu keluarga asal Surabaya. Pada saat itulah, Kiswanti bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, yakni Ngatmin (53). Pernikahan dengan Ngatmin menghadirkan dua orang anak yakni Afief Priyadi (17) dan Dwi Septiani (12).

Tinggal di Bedeng Proyek. Pertemuan dengan sang suami pun dirasa cukup unik, karena Ngatmin sendiri bekerja sebagai kuli bangunan yang tengah mendirikan sebuah rumah di dekat rumah majikan tempat Kiswanti bekerja. Seringnya bertemu membuat keduanya dilanda api cinta. Tak pelak, mereka memutuskan untuk menikah di tahun yang sama ketika Kiswanti pindah ke Jakarta. Pekerjaan PRT kemudian ditinggalkan Kiswanti. Ia memutuskan untuk mengikuti pekerjaan sang suami yang tinggalnya berpindah-pindah. “Kami tinggalnya di bedeng-bedeng dan selalu berpindah sesuai proyek suami,” ujar Kiswanti yang selalu membawa koleksi bukunya setiap kali berpindah tempat tinggal.

Setelah beberapa tahun hidup di bedeng, Kiswanti kemudian mengontrak rumah di Jakarta selama enam bulan. Barulah pada tahun 1994, Kiswanti pindah ke daerah Parung, Jawa Barat. Di daerah tersebut Ngatmin membeli sebidang tanah beserta bangunan rumah yang sederhana. Dengan harga Rp 10.000 per meter persegi, Ngatmin membeli tanah dan rumah seluas 4 x 9 meter. Uang yang dipergunakan untuk membelinya pun didapat dari hasil tabungan keluarga selama beberapa tahun bekerja sebagai seorang kuli bangunan.

Di Parung, perasaan Kiswanti sangatlah miris ketika melihat kondisi di kampungnya yang sangat kurang memiliki minat baca terhadap buku. Terlebih lagi waktu itu, jaringan listrik dan telepon belum masuk ke kampung di daerah Parung tersebut. “Saya sedih melihat nasib anak-anak di sini yang tidak suka membaca dan didikan dari orang tua yang sangat kurang karena orang tua yang bekerja,” tutur pengoleksi buku sejak SD ini. Ia lalu mengambil tindakan yang cukup berani dengan membuka sebuah warung kecil untuk menarik anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga agar mereka sudi untuk mampir dan melihat koleksi buku bacaan Kiswanti. Strategi yang digunakan Kiswanti adalah dengan menurunkan harga jual barang-barang jualannya agar warga sekitar lebih memilih berbelanja di warungnya ketimbang di warung lain. Dengan begitu, mereka dapat melihat ribuan buku koleksi Kiswanti yang berada di rak dekat dengan warungnya. Selain itu, Kiswanti juga menawarkan berbagai macam mainan anak-anak untuk menarik minat anak-anak sekitar.

Strategi tersebut tak disangka cukup berhasil menarik minat warga untuk sekadar melihat dan membaca buku-buku koleksi Kiswanti. Waktu terus berjalan, Kiswanti lalu mengambil keputusan yang cukup unik dengan menawarkan buku-buku koleksinya dengan cara berkeliling. Sepeda pun menjadi alat transportasi yang digunakannya untuk berkeliling kampung sejauh 13 KM. Sejak Januari hingga September 2003, Kiswanti selalu melakukannya setiap hari dari pagi hingga sore. Kini pun, Kiswanti masih tetap meluangkan waktu untuk berkeliling setiap hari Rabu dan Sabtu. Tak puas dengan hasilnya, Kiswanti kemudian memiliki rencana untuk membangun sebuah taman bacaan yang lebih bagus dan luas agar mampu menampung banyak pengunjung. Akan tetapi, lagi-lagi rencana tersebut terhalang oleh persoalan dana yang terbatas. Kiswanti pun memutar otaknya agar mampu mendapatkan uang yang cukup untuk mendirikan bangunan taman bacaan yang baru. Salah satu cara yang ditempuh oleh ibu dua anak ini adalah dengan menggunakan tabungan kedua anaknya dan menjual motor milik Ngatmin. Sisanya berasal dari pinjaman dari salah seorang di kampungnya. Alhasil, bangunan Warung Baca Lebak Wangi (Warabal, pen) pun terwujud. Dua buah rak besar menghiasi sudut Taman Bacaan tersebut. Ratusan bahkan ribuan buku tertata rapi di dalamnya. Beberapa meja kecil juga terpasang di dalam ruangan tersebut.

Berbagai Kegiatan. Setelah berdiri, taman bacaan Warabal memang terlihat rapi dan bersih. Banyak kegiatan dilakukan di tempat itu. Hampir setiap hari, pengajian dilaksanakan di ruangan yang berada tepat di samping rumah Kiswanti. Tengok saja tiap hari setiap pukul 08.00-10.00 pagi, ada anak-anak usia 3-4,5 tahun yang mengikuti pendidikan dari seorang guru. Kiswanti menyebutnya sebagai homeschooling. Lalu pukul 12.00-16.00 sore harinya ada pengajian bagi anak-anak usia 3-6 tahun. Kemudian selepas maghrib, masih ada pengajian untuk anak-anak usia 6-18 tahun. Tak hanya anak-anak saja yang meramaikan Warabal, ibu-ibu rumah tangga pun memiliki jadwal sendiri untuk sekadar berkumpul dan menambah pengetahuannya masing-masing. Sebulan dua kali, ibu-ibu yang tergabung dalam 25 majelis ta’lim di Kampung Saja, kerap berkumpul dan membedah buku yang mereka sukai. “Kalau ibu-ibu, dinamakan Majelis Ta’lim Silaturahmi Bulanan,” ujar Kiswanti.

Kumpulan ibu-ibu itu membahas pengetahuan umum seperti pendidikan anak, kesehatan, dan agama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. “Kami juga sering menghadirkan berbagai narasumber untuk menambah pengetahuan ibu-ibu,” aku Kiswanti. Tidak seperti anak-anak yang sebagian besar tidak dipungut biaya, maka khusus untuk ibu-ibu, Kiswanti mewajibkan setiap orang untuk membayar iuran sebesar Rp 5.000 setiap kali pertemuan diadakan. Dari uang lima ribu tersebut, Rp 2.000 digunakan untuk uang kas, Rp 2.000 untuk konsumsi dan sisanya digunakan untuk keperluan bersama, seperti membeli buku ataupun kegiatan lainnya.

Kini, segala macam bentuk kegiatan tersebut selalu berjalan setiap hari. Meski kondisi keuangannya kembang kempis, namun Kiswanti selalu mengusahakan untuk menyediakan uang bagi keperluan Warabal. Hanya satu harapan yang masih berada dalam pikiran Kiswanti, yakni memperkenalkan buku kepada warga di kampungnya serta meningkatkan minat baca yang pada akhirnya akan meningkatkan pengetahuan mereka. Dengan serba kekurangan yang dimilikinya, Kiswanti juga berharap dapat meningkatkan Warabal. “Saya ingin mendirikan taman bermain gratis untuk anak-anak di sini,” ujarnya sembari berharap keinginannya dapat terwujud sesegera mungkin. 

Dibayar dengan Buku Saat Menjadi PRT

Tahun 1987, ketika Kiswanti memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan berprofesi sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), kegemarannya membaca dan mengoleksi buku semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi, saat mengetahui sang majikan yang juga memiliki hobi sama dengan dirinya. Majikan yang diketahui bernama Marti ini memang diakui Kiswanti sebagai pengoleksi buku. Saat Kiswanti mengetahui bahwa majikannya memiliki hobi membaca buku, ia seakan-akan menemukan harta karun yang sudah terpendam lama.

Kiswanti seakan-akan diingatkan dengan tekadnya ke Jakarta yang hanya mencari penghasilan untuk membeli buku. Ia kemudian mengusulkan sesuatu yang cukup unik dan menarik kepada sang majikan. “Saya menawarkan kepada majikan saya, agar membayar gaji saya dengan buku saja,” aku Kiswanti. Bak gayung bersambut, sang majikan kemudian menyetujuinya dan setiap bulan selama kurang lebih tiga bulan, Kiswanti dibayar dengan beragam buku bacaan. Alangkah senangnya Kiswanti kala itu yang mampu menambah koleksi buku bacaannya. “Saya dulu sering ke Senen untuk membeli buku,” kenang Kiswanti.

Buku-buku yang menjadi upahnya ternyata bukanlah buku bekas yang harganya tidak seberapa, namun berbagai macam judul buku baru yang harganya cukup mahal. Sayangnya, sang majikan hanya tinggal di Jakarta selama tiga bulan. “Dia harus balik lagi ke Philipina,” aku Kiswanti. Meski begitu, Kiswanti mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari sang majikan yang mampu memberinya berbagai macam buku bacaan.

Kiswanti sendiri memang sangat tergila-gila terhadap buku. Bila anak kecil pada umumnya meminta uang di saat lebaran untuk membeli baju, maka lain halnya dengan Kiswanti yang justru meminta uang di saat lebaran untuk membeli buku bacaan baru. Bahkan setiap kali ia memperoleh uang dari kedua orang tuanya, ia selalu membelanjakan uang tersebut untuk membeli buku. “Si Mbok (Ibu dalam bahasa Jawa, Red) dan Bapak sempat takut saya menjadi gila karena terlalu menyukai buku bacaan,” kenang Kiswanti. Namun penilaian kedua orang tuanya tersebut kini tak terbukti. Dulu, sang ayah malah sempat berpesan kepada Kiswanti agar menekuni buku-bukunya karena menurut sang ayah, kelak di masa tua akan bermanfaat banyak. Kini, Kiswanti merasakan bahwa omongan ayahnya itu terbukti dengan adanya manfaat bagi banyak orang setidaknya bagi warga sekitar di kampungnya. Fajar

Side Bar 2:

Menunda Kuliah Anak Pertamanya Demi Taman Bacaan

Jika dibilang sebagai bentuk keegoisan, mungkin Kiswanti juga menyadarinya. Namun, bila dilihat dari segi manfaat dan sosial, tentu saja keputusan Kiswanti sangatlah tepat. Pasalnya, Kiswanti harus dengan rela menunda kuliah anak pertamanya, Afief Priyadi. “Uang tabungannya dipakai untuk membangun Warabal,” aku Kiswanti sembari meringis. Meski begitu, Afief dengan lapang dada mampu memaklumi keinginan ibundanya yang ingin memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar.

“Ya kalau kuliah bisa kapan saja,” kilah Kiswanti. Bahkan Afief yang lulus dari STM Pembangunan ini kini berencana untuk mencari pekerjaan agar mampu membiayai kuliahnya sendiri. Kiswanti sendiri memang merasakan kesedihan yang cukup dalam karena tak mampu mewujudkan keinginan anak sulungnya. Meski demikian, Kiswanti berjanji dalam dirinya bahwa suatu saat nanti akan memasukkan Afief ke bangku kuliah. “Tahun ini bersamaan dengan adiknya yang masuk SMP,” ujarnya beralasan. Afief pun harus dengan rela memendam keinginannya tersebut demi adik dan ibunya yang sangat dicintainya tersebut. Fajar

Side Bar 3:

Membawa 75 dari 155 Anak Didiknya Melihat Monas di Jakarta

Kiswanti bukanlah tanpa halangan dalam merealisasikan keinginannya untuk mendirikan taman bacaan. Selain halangan berupa keterbatasan dana, ia juga sempat dihujani berbagai ejekan dari sebagian warga di kampungnya. Salah satunya adalah setelah ia mengajarkan mengenai sejarah berdirinya Monumen Nasional (Monas) di Jakarta kepada anak-anak. Oleh karena sebagian besar anak-anak belum pernah melihat bentuk Monas, maka Kiswanti pun menyarankan agar mereka dapat menabung. Dengan begitu, mereka dapat membayar ongkos untuk pergi ke Monas.

Tak dinyana, anak-anak warga sekitar tersebut selalu meminta uang setiap kali mereka disuruh oleh orang tuanya. Tak pelak, banyak orang tua pun kesal dengan ajaran Kiswanti. Menurut mereka, karena didikan Kiswanti, anak-anak mereka menjadi sering meminta uang untuk ditabung. Kiswanti menjadi dibenci oleh warga sekitar. Ia lalu tidak habis akal. Kiswanti lalu menceritakan permasalahannya tersebut ke salah satu anggota komunitas 1001 buku. Singkat cerita, ada salah satu donatur yang mau membayarkan segala macam ongkos bagi 75 anak didik Kiswanti. “Yang boleh diajak hanya 75 dari 155 anak didik saya,” ungkap Kiswanti. Tak ayal, ia pun melaksanakan seleksi untuk menyaring anak-anak didiknya tersebut. Seleksi yang dilakukan meliputi tes pengetahuan dan tes sikap yang selalu dipantau Kiswanti. Tepat bulan April lalu, Kiswanti akhirnya mampu mewujudkan keinginan anak-anak didiknya untuk bisa melihat Monas dari dekat. “Saya sangat bahagia melihat mereka bahagia melihat monas,” ungkap Kiswanti.

Ejekan tak hanya berhenti sampai di situ saja, Kiswanti juga kerap dijuluki sebagai tukang rongsokan oleh sebagian warga Kampung Saja, Parung. Ejekan ini timbul karena mereka seringkali melihat Kiswanti membeli buku bekas dari tukang loak. “Saya sih bersabar saja,” ujarnya singkat. Kiswanti memiliki alasan tersendiri kenapa ia membeli buku dari tukang loak. “Kadang-kadang buku bekas di tukang loak itu masih bagus-bagus dan mahal,” ujar Kiswanti. Menurutnya, hal ini disebabkan karena PRT di rumah-rumah orang kaya di sekitar rumahnya sering menjual buku-buku milik majikannya tanpa sepengetahuan si pemilik. Alhasil, buku-buku tersebut terkadang dibeli oleh Kiswanti yang kemudian dijadikan sebagai koleksi Warabal. Tak heran, kini koleksi buku-buku di Warabal sudah mencapai angka 1900 buah. Ditambah lagi, dengan banyaknya sumbangan buku dari berbagai pihak. Fajar

Side Bar 4:

Dwi Septiani (12), Anak Bungsu Kiswanti

Sempat Kesal karena Diejek Anak Tukang Rongsokan

Kegemaran Kiswanti membeli buku-buku bekas dari tukang loak atau tukang barang rongsokan ternyata berdampak pula kepada anak keduanya, Dwi Septiani. “Saya sering diejek anak tukang rongsokan,” kenang Dwi. Tak pelak, Dwi pun sempat kesal dengan ejekan tersebut. Meski begitu, sang ibu tetap berusaha untuk menenangkan anak perempuan satu-satunya tersebut agar tetap sabar menerima ejekan dari sebagian teman-temannya. “Jangan dipikirin,” ujar Dwi sembari meniru ucapan ibunya ketika mengadu perihal ejekan tersebut.

Meski terkadang kesal dengan ejekan, di sisi lain, Dwi merasa bangga dengan ibu kandungnya itu. Pasalnya, berkat kegiatan ibunyalah, anak-anak di sekitar kampungnya lebih menyukai membaca buku. “Saya bangga lah,” ujar anak yang akan memasuki bangku SMP ini. Rasa bangganya itu tergambar jelas dari sosok Dwi. Ia kini sudah keukeuh dengan cita-citanya sebagai guru. Dwi beralasan bahwa ia ingin menjadi guru karena melihat tindakan sang ibu yang mampu mengajar meski hanya lulusan sekolah dasar. Untuk mencapai cita-citanya sebagai guru, Dwi telah bertekad untuk dapat merasakan bangku kuliah bila nanti saatnya tiba.

Hasil dari didikan Kiswanti juga tergambar jelas pada Dwi. Kiswanti yang dengan getolnya memperkenalkan buku sejak dini ini ternyata mampu membuat kedua anaknya termasuk Dwi mencapai prestasi yang cukup baik di sekolahnya. “Saya selalu mendapat rangking 1 di kelas,” kenang Dwi. Tidak hanya memperkenalkan buku saja, Kiswanti juga kerap mengajarkan kedua anaknya untuk selalu mengerjakan Pekerjaan Rumahnya sendiri. “Saya tidak pernah memberitahu jawabannya kepada anak saya,” aku Kiswanti. Tak heran, Dwi pun selalu berusaha untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan pada PR yang diberikan gurunya di kelas. Rencananya Dwi akan masuk ke SMPN 1 Parung. “Mudah-mudahan bisa diterima,” harap anak perempuan berkerudung ini. Fajar

Rabu, 13 April 2011

Perbedaan Psikolog dan Psikiater


Bedanya, psikiater dapat memberikan obat, sedangkan psikolog tidak.
Bagi awam, kedua profesi ini kerap membingungkan. Bukan cuma itu, tidak sedikit yang merasa malu atau segan berkonsultasi dengan psikiater karena takut anaknya dianggap kurang waras. "Ini jelas sebuah kekeliruan," ujar Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Sp.KJ. "Psikiater tidak hanya menangani masalah gangguan jiwa berat, tapi juga ringan. Anak kecanduan main game pun dapat berkonsultasi dengan psikiater," lanjutnya.

Sementara terhadap psikolog, justru dianggap hanya menangani masalah yang ringan-ringan saja. Padahal, psikolog juga dapat menangani masalah gangguan jiwa berat. Seperti dipaparkan DR. Rose Mini A. Prianto, M.Psi., beberapa psikolog juga ada yang bertugas di rumah sakit jiwa atau klinik pascatrauma. Psikolog bisa melihat seberapa berat gangguan pasien dan apa yang dapat dilakukan psikolog untuk mengatasinya. Bisa saja psikolog melakukan terapi perilaku atau membuat pasien lebih tenang menjalani kehidupannya. "Jadi, tidak benar jika psikolog hanya menangani masalah yang ringan-ringan saja," tandas psikolog yang akrab disapa dengan panggilan Romi ini.

APA SIH BEDANYA?
Memang, ada beberapa hal yang membedakan psikolog dan psikiater, sebagaimana dijelaskan Dadang di bawah ini:

"Mungkin inilah poin penting yang membedakan psikolog dan psikiater," tandas Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. Maksudnya, dalam hal penanganan masalah dimana psikiater boleh memberikan terapi obat-obatan (farmakoterapi).

Dalam kesehatan mental, terang Dadang, yang terganggu tidak hanya psikososial penderita tapi juga biologisnya sehingga memerlukan penanganan obat-obatan. Contoh kasus, anak yang mogok sekolah dengan disertai gangguan psikosomatis seperti sakit perut, sakit kepala, mual, muntah, dan pusing-pusing. Psikosomatis merupakan kelainan atau gangguan pada fisik yang disebabkan faktor psikis seperti stres.

Nah, dalam kasus ini, anak tidak hanya memerlukan konseling untuk mengetahui penyebab mogok sekolahnya—apakah ada konflik dengan guru atau teman, dan sebagainya—tetapi juga pemberian obat-obatan khusus untuk menangani gangguan psikosomatisnya. "Obat sakit kepala, mual, muntal tidak dibutuhkan karena tidak efektif, yang mereka butuhkan obat-obatan psikiatri yang cocok dengan dosis tepat."

Penggunaan obat-obatan juga lazim digunakan untuk anak-anak yang mengalami kecanduan, tidak hanya narkotika atau rokok, lo, tapi juga kecanduan lainnya seperti kecanduan bermain game. "Jika bermain game-nya sudah berlebihan bahkan sampai mengganggu sekolahnya, maka anak memerlukan terapi obat-obatan."


Penanganan psikiatri di seluruh dunia, ungkap Dadang, dilakukan dengan empat cara yang disingkat BPSS, yaitu Biologic (obat-obatan), Psychologic (konsultasi), social (penanganan sosial), dan spiritual (agama). "Keempat-empatnya harus dijalankan secara terpadu." Dadang lantas mencontohkan kasus anak yang mengalami stres karena konflik dengan teman. Dia harus mendapatkan penanganan lewat konsultasi, apa yang dapat dilakukan untuk meredakan ketegangan yang dialami, lalu diberikan obat-obatan agar anak tidak kelewat cemas dengan permasalahan yang dialami.

Begitu pun sosialnya, dengan melihat penyebab stres si anak lalu mencoba mengatasinya, apa yang dapat dilakukan anak/orangtua/guru untuk mengatasi konflik anak, membekali anak mengatasi konfliknya sendiri, dan lain-lain. Agama juga penting dijalani agar anak merasa tenang, seperti mengajarkan berdoa, beribadah, berbuat baik sehingga dicintai Tuhan serta akan memiliki banyak teman, dan sebagainya.

Sementara soal farmakoterapi, apakah anak memerlukan penanganan obat-obatan atau tidak, hanya dokterlah yang tahu. Dokter akan melihat sejauh mana berat ringannya penyakit, juga efektivitas pemberian obat-obatan tersebut. "Sebab, ada gangguan seperti stres atau trauma yang tetap memerlukan penanganan obat-obatan. Jika tidak diobati, gangguan itu selalu muncul. Anak yang tidak stabil, misalnya, dia enggan membuka diri, diajak ngobrol enggak mau, sering mengamuk, dan lain-lain. Jadi, gangguan itu harus diatasi terlebih dahulu. Setelah kondisi anak stabil, barulah dia bisa diterapi perilaku atau konsultasi, dan lain-lain," terang Dadang.


SALING BEKERJA SAMA


Meski ada perbedaannya, namun Romi menyarankan orangtua agar jangan terlalu bingung untuk memilih antara psikolog dan psikiater. Sebab, pada dasarnya kedua profesi ini, baik psikolog atau psikiater, mendalami ilmi kejiwaan dan juga ilmu perkembangan anak. Psikolog pun banyak yang mendalami ilmu kedokteran. Jadi, sebagian besar masalah yang bisa diatasi psikolog, dapat dilakukan juga oleh psikiater. Toh, jika memerlukan bantuan penanganan ahli lain, psikolog tetap akan mereferensikan anak agar berkonsultasi lebih lanjut kepada psikiater. Demikian pula sebaliknya.


Bahkan, dalam penanganan kasus tertentu, kerja sama keduanya sangat diperlukan. Misal, anak yang mogok sekolah, dilihat dulu adakah gangguan fisik yang menyertai. Jika ada gangguan seperti anak kurang vitamin, gangguan pencernaan, gangguan kecemasan, maka penanganan dokter atau psikiater diperlukan. "Bisa saja anak tidak mau sekolah karena pikirannya tertekan sehingga membutuhkan obat penenang. Sebab, jika anak belum tenang, sulit sekali memberikan treatment kepada anak." Namun jika tidak ada masalah fisik, maka bisa saja psikolog menangani masalah tersebut sendiri.


Meski begitu, dalam hal-hal tertentu ada kekhususan bidang yang digarap psikolog, seperti menangani masalah pendidikan anak. Contoh, bagaimana mengukur kemampuan anak seperti IQ, juga cara melejitkan potensi anak secara maksimal. "Jadi, psikolog tidak hanya menangani anak bermasalah, tapi juga memaksimalkan potensi diri anak," tukas Romi. Selain itu, tambahnya, psikolog juga dapat menangani masalah-masalah ringan di rumah, semisal tentang aturan dan disiplin di rumah, anak sulit makan atau tidak bisa makan sendiri; juga masalah kemandirian seperti anak belum bisa buang air kecil sendiri, serta masalah perilaku buruk anak semisal mengumpat, meludah, dan lain-lain. "Masalah-masalah ini mungkin lebih tepat ditangani psikolog," katanya.

Senin, 11 April 2011

Read Aloud Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku

Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya”
Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku sangat beragam mulai dari yang sifatnya mendidik sampai yang sifatnya menghibur. Selain itu, buku tak lekang oleh masa. Kita akan bertemu dan memerlukan buku sepajang hidup kita. Lalu apa yang akan terjadi bila anak-anak kita tidak mencintai buku? Hmm, yang paling sederhana dan mendesak dimasa-masa awal kehidupannya adalah kemungkinan mereka menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Betapa tidak, walaupun teknologi telah berkembang dengan pesat, buku tetap merupakan media utama dalam proses belajar.
Jika demikian apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku ya?
Banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara memumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).
Apakah read aloud berbeda dengan mendongeng?
Ya. Berdasarkan tujuannya kedua aktivitas tersebut adalah berbeda. Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.
Dikarenakan read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini, sedangkan pada aktivitas mendongeng buku tidak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.
Bagaimana cara melakukan read aloud?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memulai bercerita dengan teknik read aloud, yaitu:
  • Cari buku yang baik untuk anak dan diri kita. Dalam memilih buku ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:
  1. Sesuaikan panjang cerita dengan usia dan rentang perhatian anak. Dapat dimulai dengan cerita yang pendek, secara bertahap ke yang lebih panjang. Cobalah dengan 2 atau 3 buku cerita yang pendek terlebih dahulu.
  2. Pilih buku cerita yang bisa membuat kita senang, baik cerita atau ilustrasinya.
  3. Pilih cerita yang menarik, banyak dialog, menggambarkan beberapa keadaan, adventure, dan memiliki muatan emosional yang sesuai dengan usia anak dan latar belakang anak.
  4. Bacakan sebanyak mungkin buku cerita anak. Jika menemukan pengarang atau illustrator yang baik, cari beberapa judul dari mereka. Anak akan mempunyai pengarang favorit. Biarkan dia membaca berulang-ulang. Sementara tetap perkenalkan dengan yang buku dan pengarang lainnya.
  5. Cari buku yang mengambarkan keadaan sehari-hari.
  6. Perlu diperhatikan bahwa buku disebut baru, jika anak belum pernah mendengar.
  • Baca terlebih dahulu buku yang hendak kita bacakan ke anak kita
  • Pilih buku cerita sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak
  • Bila usia anak sudah memungkinkan, sertakan anak dalam pemilihan buku
  • Pilih buku diatas kemampuan baca anak tetapi dengan panjang cerita yang sesuai dengan ketahanannya mendengarkan cerita.
Bila tahap persiapan sudah dilalui dengan baik, maka selanjutnya adalah tahap pelaksanaan read aloud. Dalam tahapan ini ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan, yaitu:
  • Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang
  • Baca perlahan, ekspresif dan semenarik mungkin.
  • Usahakan menggunaan suara/intonasi berbeda sesuai karakter
  • Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraug,meringkik dll sesuai karakter (dalam cerita)
  • Tambahkan ‘body language’
  • Ketika hendak membacakan cerita:
  1. Tunjukkan halaman depan
  2. Sebutkan judulnya, nama pengarang dan ilustratornya
  3. Sebutkan tema utama buku yang akan dibaca seperti “buku cerita ini mengenai…”
  4. Mulai dengan membicarakan gambar yang ada dibuku atau dengan membolak-balikkan gambar. Bayi perlu dibantu membolak-balikkan buku sedangkan anak usia 3 tahun keatas sudah bisa melakukannya sendiri
  • Tunjukkan kata-kata dengan jari kita
  • Mulai dengan beberapa menit membaca, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan anak maka waktu membaca akan bertambah.
  • Bila perkembangan anak sudah memungkinkan maka ajukan pertanyaan seputar cerita
  • Pancing dengan beberapa pertanyaan, apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?
  • Biarkan anak bertanya mengenai cerita
  • Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap
  • Biarkan anak menceritakan ceritanya, diusia 3 tahun seorang anak sudah bisa menghafal cerita dan biasanya senang diberi kesempatan untuk bercerita.
Kapan sebaiknya mulai melakukan read aloud?
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Mengapa demikian? Ini terkait dengan tujuan read aloud yaitu menumbuhkan kecintaan pada buku. Sehingga semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal.
Kapan dan dimana sebaiknya kita melakukan read aloud?
Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukan read aloud. Kita bisa melakukannya dirumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, saat menunggu pesawat atau kereta api atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.
Apa ada referensi judul buku untuk read aloud?
Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. Namun bila diperlukan anda dapat merujuk kepada beberapa referensi berikut:
ü Judul : Camille pergi ke dokter
Penulis : Aline de Petigny & Nancy Delvaux
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.
ü Judul : Pierre nonton TV
Penulis : Gustavo Masali
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.
ü Judul : Untuk Bunda dan dunia
Penulis : Abdurahman Faiz
Penerbit : Dari Mizan.
ü Judul : 366 Hal-hal yang perlu anak anda ketahui
Penulis : Andree Bertino dan Fredo Valla
Penerbit : Happy Books
ü Judul : Kisah-kisah teladan untuk keluarga
Penulis : Dr. Mulyanto
Penerbit : GIP, 2008
Hmmm setelah menambah informasi tentang read aloud, diharapkan kita lebih memahami bahwa hal sesederhana membacakan buku singkat yang mungkin hanya memerlukan kurang lebih 20 menit setiap harinya, dapat membantu membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak.
Bila anda tertarik untuk memahami read aloud lebih menyeluruh ada dapat mengakses http://www.readingbugs.org dengan contact person ibu Roosie. Beliau juga dapat membantu anda dan guru-guru anak-anak anda bila tertarik mempelajari read aloud melalui workshop yang beliau dan reading bugs prakarsai.
Referensi:
Trelease, Jim. (2006). Read-Aloud Handbook. London: Peguin Books.
Roosie (2009). Bagaimana “read aloud” yang baik bagi orangtua dan pendidik usia balita. Dalam makalah seminar read aloud. Depok: Reading Bugs.

Jika Anak Telah Kecanduan Video Game

Panas terik tidak dirasakan oleh Wahid dan Budi. Tanpa pulang terlebih dulu, langkah mereka segera bergegas menuju tempat penyewaan play station 2 (PS 2) dan video game. Lapar sepertinya tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menyelesaikan game konsol (video game console) yang keluaran terbarunya selalu diburu oleh para pencandu video game. Jari mereka memencet-mencet tombol konsol yang ada di tangannya. Sementara matanya tak lepas dari layar monitor yang tengah menayangkan gerak akrobatis tokoh yang dikendalikannya. Mengatasi rintangan sambil menghadapi musuh-musuhnya. Begitu tokohnya mati dan permainan berakhir, dia segera mengulang dari awal dengan rasa penasaran. Tidak cukup satu atau dua jam, Wahid dan Budi bisa bermain sampai berjam-jam sebelum mereka benar-benar bisa memecahkan rasa penasaran akan permainan itu.
Ilustrasi di atas adalah kejadian nyata yang mungkin juga pernah Anda temui pada saudara, teman, atau bahkan anak didik Anda di sekolah minggu. Disadari atau tidak, dewasa ini video game bak candu bagi anak-anak kita. Masalah ini bisa menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan jika tidak ada kontrol atau perhatian yang serius dari orang tua, sekolah, atau pihak lain seperti sekolah minggu.
Kata "candu" diasumsikan sebagai sesuatu yang menjadi kegemaran (KBBI, 2001:191). Candu video game ibarat sesuatu kegiatan yang amat disukai oleh seseorang dan menyebabkan seseorang menjadi ketagihan sehingga melakukannya secara terus-menerus. Kecanggihan game pada abad 21 ini dirasa berkembang pesat dan semakin banyak dibuat. Anda bisa membuktikannya manakala Anda sedang berkunjung di sebuah pusat perbelanjaan dan melewati sebuah toko yang menyediakan piranti-piranti video game dan play station. Para konsumen berjubel, mulai dari orang dewasa sampai anak-anak mengantri hanya untuk membeli game-game terbaru.
Mark Griffiths, seorang pakar video game, mengungkapkan bahwa game bisa membuat orang lebih bermotivasi. "Video game abad ke-21 dalam beberapa segi lebih memberi kepuasan psikologis daripada game tahun 1980-an." Untuk memainkannya perlu keterampilan lebih kompleks, kecekatan lebih tinggi, serta menampilkan masalah yang lebih relevan secara sosial dan gambar yang lebih realistis. Kata kunci dari pernyataan tersebut adalah "kepuasan psikologis", di mana anak terdorong untuk menuntaskan dan memenangkan permainan yang ada di video game tersebut.
Mari bersama-sama melihat sejauh mana dampak negatif video game yang bisa menjadi candu bagi anak-anak kita. Dalam hal ini bukan dampak yang bersifat sementara, namun dampak yang bersifat jangka panjang, yang sedikit banyak berpengaruh pada perkembangan aspek pendidikan, kesehatan, keadaan psikis anak, dan kehidupan sosial anak.
  1. Aspek Pendidikan
    Mohammad Fauzil Adhim dalam artikelnya berpendapat bahwa anak yang gemar bermain video game adalah anak yang sangat menyukai tantangan. Anak-anak ini cenderung tidak menyukai rangsangan yang daya tariknya lemah, monoton, tidak menantang, dan lamban. Hal ini setidaknya berakibat pada proses belajar akademis. Suasana kelas seolah-olah merupakan penjara bagi jiwanya. Tubuhnya ada di kelas, tetapi pikiran, rasa penasaran, dan keinginannya ada di video game. Sepertinya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk mengolah bayang-bayang game yang mendebarkan. Kadangkala anak juga jadi malas belajar atau sering membolos sekolah hanya untuk bermain game.
    Uniknya, beberapa penelitian mengatakan bahwa anak yang fanatik bermain game biasanya merupakan individu yang berintelijensi tinggi, bermotivasi, dan berorientasi pada prestasi. Namun, kecanggihan game yang terus berkembang dan makin bertambah banyak pada abad 21 ini masih menimbulkan tanda tanya apakah game berpengaruh pada orientasi prestasi seseorang.
  2. Aspek Kesehatan
    Dari sisi kesehatan, pengaruh kecanduan video game bagi anak jelas banyak sekali dampaknya. Untuk menghabiskan waktu bermain game, anak yang telah kecanduan tidak hanya membutuhkan waktu yang sedikit. Penelitian Griffiths pada anak usia awal belasan tahun menunjukkan bahwa hampir sepertiga waktu digunakan anak untuk bermain video game setiap hari. "Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 7%-nya bermain paling sedikit selama 30 jam per minggu." Selama itu, anak kita hanya duduk sehingga memberi dampak pada sendi-sendi tulangnya. Seperti dikemukakan Rab A.B., di London terdapat fenomena "Repetitive Strain Injury" (RSI) yang melanda anak berusia tujuh tahun. Penyakit ini semacam nyeri sendi yang menyerang anak-anak pecandu video game. Jika tidak ditangani secara serius, dampak yang terparah adalah menyebabkan kecacatan pada anak. Hal semacam inilah yang seharusnya patut kita perhatikan.
  3. Aspek Psikologis
    Berjam-jam duduk untuk bermain video game berdampak juga pada keadaan psikis anak. Anak dapat berperilaku pasif atau sebaliknya anak akan bertindak sangat aktif atau agresif. Perilaku pasif yang biasa muncul adalah anak jadi apatis dengan lingkungan sekitar, kehidupan sosialisasi anak agak sedikit terganggu karena anak jauh lebih senang bermain dengan game-gamenya daripada bergaul dengan teman-temannya. Video game dapat juga menyebabkan anak dapat berperilaku aktif bahkan bisa agresif. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh game-game yang banyak menghadirkan adegan kekerasan. Dalam waktu selama itu, anak hanya berinteraksi dengan kekerasan, gambar yang bergerak cepat, ancaman yang setiap detik selalu bertambah besar, serta dorongan untuk membunuh secepat-cepatnya. "Anak mengembangkan naluri membunuh yang impulsif, sadis dan ngawur," tambah Fauzil Adhim. Sangat mengerikan sekali jika tidak ada kontrol dari orang tua untuk menyikapi hal tersebut.
Adalah tugas semua pihak, baik dari institusi sekolah, orang tua, maupun guru sekolah minggu untuk lebih memerhatikan fenomena video game yang terlalu dalam memengaruhi anak. Jika anak kita belum terlanjur kecanduan video game, ambillah langkah yang bijak dalam menangani masalah ini. Berikut langkah yang bisa diambil.
  1. Berikan waktu luang dan perhatian yang banyak kepada anak-anak Anda. Ada kesan bahwa orang tua yang sibuk bekerja dengan mudah menyediakan perangkat video game hanya karena tidak mau repot dengan anak. Mereka mau membelikan apa pun asalkan dapat membuat anak diam. Seharusnya, orang tua boleh memberikan mainan yang anak minta asalkan ada kendali juga dari orang tua. Padahal cara ini bisa berdampak pada lemahnya keterampilan emosi anak. Mereka tidak belajar bagaimana mengelola keinginan atau mengambil pertimbangan, tegas Fauzil Adhim.
  2. Orang tua harus lebih selektif dalam mencarikan mainan untuk anak-anaknya. Sebisa mungkin permainan yang memunyai unsur edukatif, bukan permainan yang memertontonkan adegan kekerasan.
  3. Buatlah sebuah peraturan yang dibuat oleh Anda dengan anak Anda secara bersama-sama. Di antaranya perihal batasan waktu antara bermain game, belajar, dan kegiatan sosialisasi anak dengan teman-temannya.
  4. Orang tua harus menanamkan pemahaman keagamaan kepada anak dengan baik. Dari segi kerohanian, orang tua dapat melibatkan anak secara aktif dalam kegiatan sekolah minggu, mengadakan doa, atau saat teduh bersama anak di rumah. Sebab hal ini akan berpengaruh kepada moral anak. Singgih D. Gunarsa menegaskan bahwa moral anak dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan teman-teman sebaya, segi keagamaan, juga aktivitas-aktivitas rekreasi (2003:40-45). Aktivitas rekreasi di dalamnya meliputi film, radio, televisi, video game, dan buku-buku.
Bagaimana jika saat ini Anda sedang menghadapi anak yang telah terlanjur kecanduan dan sulit sekali mengubah kebiasaan bermain game-nya? Bahwa anak mengorbankan kegiatan sosialnya, enggan mengerjakan PR, dan ingin mengurangi ketergantungannya, namun tak bisa adalah beberapa indikasi anak kecanduan video game. Memang perlu usaha yang keras untuk dapat mengembalikan keadaan anak seperti semula. Apakah anak perlu diterapi? Mungkin saja, jika tarafnya sudah sedemikian parahnya. Orang tua harus melibatkan ahli-ahli lain untuk mengembalikan anak pada kondisi normal, bisa belajar berpikir dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan sekolah, serta dapat mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah dengan wajar. Menurut Fauzil Adhim, terapi juga diarahkan agar anak bisa belajar mengelola emosinya, mampu menghidupkan perasaannya dengan baik dan sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif positif.

Sabtu, 09 April 2011

Peran Ibu Dalam Mengembangkan Budaya Membaca Pada Anak

Semua orang pasti kenal Thomas Alva Edison, yaitu salah seorang penemu terkenal pada abad 19. Temuan-temuannya sampai kini masih digunakan orang seperti antara lain bola lampu listrik. Tapi, banyak orang yang tidak tahu bahwa Thomas kecil pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap terlalu bebal untuk mengikuti pelajaran. Ketika Thomas dikeluarkan dari sekolah, maka ibunya dengan sabar mengajarnya di rumah dan mendukung minatnya terhadap ilmu. Berkat peran ibunya maka Thomas kecil menjelma menjadi penemu terkenal.

Ketika saya kecil, sekitar pertengahan tahun 1960an, Ibu saya selalu mendongeng untuk mengantarkan saya dan adik-adik tidur. Setiap hari dongengnya selalu berganti. Seakan-akan Ibu tak pernah kehabisan dongeng. Mulai dari dongeng “kancil mencuri timun” dengan berbagai setting cerita, sampai pada “tikus desa berkunjung ke kota”. Ketika ibu kehabisan bahan untuk mendongeng, ibu akan membacakan cerita dari buku kumpulan dongeng anak-anak. Sesekali kami anak-anaknya bertanya bila ada kata-kata yang tidak kami mengerti. Dan Ibu dengan sabar menjelaskan kata-kata tersebut sampai kami mengerti. Begitulah kami belajar dan mengumpulkan kosa kata. Pada waktunya kosa kata tersebut akan keluar dalam bentuk komunikasi dengan teman-teman kami. Selain itu dongeng itu menjadikan hubungan batin kami anak-anaknya dengan Ibu sangat dekat. Sesudah kami lancar membaca, maka kami dapat membaca sendiri cerita dari buku-buku yang dipinjami Bapak dari perpustakaan sekolahnya. Kebetulan Bapak adalah seorang kepala sekolah dasar suatu desa di Madura. Dan setiap waktu tertentu sekolah bapak mendapatkan kiriman buku-buku cerita terbitan Balai Pustaka dari pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kebiasaan membaca inilah kelak yang membantu saya menapaki hidup yang walaupun tidak berlebihan, namun tetap survive di tengah persaingan hidup yang sangat ketat.
Saat ini, mungkin karena kesulitan ekonomi yang tak kunjung mereda, ibu-ibu sudah jarang sekali mendongeng untuk anak-anaknya guna mengantarkan tidur mereka. Ibu-ibu jaman sekarang harus bekerja untuk membantu meringankan beban keluarga. Mereka  kelelahan sesudah seharian bekerja dengan gaji yang tidak pernah cukup untuk menopang kebutuhan keluarga. Tidak ada waktu lagi untuk sekedar bercanda ria dengan anak-anaknya. Apalagi mendongeng. Apabila terpaksa mendongeng, maka dongeng sang ibu sering kacau karena kalah oleh kantuk, dan sudah tertidur sebelum dongengnya tamat. Padahal anaknya belum tertidur. Anak-anak tidak bisa belajar lagi di rumah. Pendidikan mereka 100 % diserahkan ke sekolah. Padahal di sekolahpun para guru tidak bisa  mendidik 100 % seperti jaman dulu. Karena guru-guru jaman sekarang mengajar di banyak sekolah untuk sekedar menambal kekurangan gaji mereka supaya dapur para guru itu tetap berasap (saat ini mungkin sebagian guru sudah bernasib lebih baik sejak diberlakukannya sertifikasi guru). Tinggallah anak-anak kita yang jadi korban. Anak-anak lebih banyak berkeliaran di mal-mal. Atau kalaupun ada di rumah, mereka duduk di depan TV menyaksikan tayangan yang penuh dengan kekerasan dan seks. Jika tidak nonton televisi, maka anak-anak sekarang banyak yang bermain PS atau game online yang penuh dengan kekerasan untuk mengisi waktu-waktu luangnya. Akibatnya, anak-anak ini menjadi mudah marah, mudah tersinggung. Puncaknya adalah tawuran antar sekolah, ketergantungan terhadap narkoba, perkosaan oleh remaja dan sebagainya. Dalam tawuran remaja kita tidak pernah tahu apa yang mereka bela. Kalau kehormatan sekolah yang dibela, mungkin masih dapat dimengerti. Namun tawuran mereka lebih sering karena alasan iseng saja. Saling mencemooh antar pelajar dan berbuntut saling baku hantam. Bahkan tidak jarang baku bacok.
Kemampuan berkomunikasi merekapun juga kurang baik. Kadang-kadang pikiran mereka lebih cepat dari ucapan mereka. Janganlah mereka disuruh menulis. Berbicara saja mereka susah memilih kosa kata, karena memang miskin kosa kata. Mereka tidak pernah terlatih untuk menggunakan banyak kosa kata. Dengarkan jika kebetulan anak muda diwawancara oleh wartawan media elektronik. Jawaban mereka sering meloncat dari satu topik ke topik yang lain. Tidak pernah runtut dalam mengemukakan pendapat. Mengemukakan pikiran yang runtut hanya bisa dilatih dengan cara membaca dan menulis.
Sesungguhnya pendidikan di lingkungan keluarga merupakan kunci dari permasalahan yang kita hadapi sekarang ini. Dan kunci pendidikan di lingkungan keluarga adalah ibu. Jika saja ibu dapat memberikan teladan-teladan yang berasal dari dongeng atau cerita dari buku dongeng anak-anak, maka jiwa anak-anak itu sudah diisi oleh hal-hal yang baik sejak dini. Masalahnya dari mana ibu-ibu tersebut bisa mendapatkan buku cerita supaya dia bisa mendongeng dengan baik. Membeli buku cerita anak bagi keluarga sederhana merupakan sesuatu yang muskil. Bayangkan, untuk satu nomor majalah Bobo saja harganya sama dengan setengah kilogram telur ayam. Padahal satu nomor majalah Bobo mungkin hanya bisa menjadi dua hari untuk bahan mendongeng. Jika anak-anak tersebut sudah bisa membaca sendiri, maka bahan bacaan yang dibutuhkannya akan semakin mahal. Satu nomor majalah Kawanku misalnya akan lebih mahal dari harga satu kilogram telur ayam.
Untuk memenuhi bahan bacaan tersebut, saya teringat pengalaman saya sewaktu berkunjung ke Buin Batu National School. Buin Batu terletak di Pulau Sumbawa, tepatnya di kawasan pertambangan Newmont Nusa Tenggara. Buin Batu adalah kota kecil yang dari ujung kota yang satu ke ujung yang lain hanya ditempuh selama 30 menit berjalan kaki. Ketika saya mampir di toko kelontong (mini market) di salah satu sudut kota, saya tertarik ke salah satu ruangan yang ada pojok toko tersebut. Disitu ada rak-rak buku dan majalah. Semula saya sangka buku dan majalah yang ada disitu dijual. Karena kebetulan bahan bacaan saya sudah habis terbaca di tempat penginapan dan saya butuh bahan bacaan, saya bermaksud untuk membelinya. Saya masuk ke ruangan tersebut. Namun saya tidak dapati penjaga “toko buku” tersebut. Saya tanya security (begitu yang tertulis di topinya). Katanya buku dan majalah itu tidak dijual, tapi dapat dipinjam. “Kalau Bapak mau pinjam, silahkan memilih sendiri buku atau majalahnya, kemudian mencatatkan pinjaman Bapak di buku yang ada di sudut ruangan itu.” Kata security itu menjelaskan. Wah… ini baru layanan perpustakaan yang menganut swalayan atau self-service. Layanan seperti ini hanya bisa kita dapatkan di Singapura. Saya mencoba tanya lebih lanjut pada security. Ternyata koleksi “perpustakaan umum” itu berasal dari sumbangan warga Buin Batu. Prinsip mereka adalah sharing koleksi. Jika mereka bisa beli satu, maka mereka dapat membaca banyak. Yang tidak sanggup membelipun dapat membaca banyak. Gotong royong semacam ini mestinya dapat dikembangkan di tempat-tempat lain di Indonesia.
Lebih jauh lagi mestinya penyediaan bahan bacaan ini merupakan tanggung jawab Pemerintah. Perpustakaan umum harus diberdayakan. Bahkan mestinya perpustakaan umum ini ditempatkan di pusat keramaian seperti pasar dan swalayan. Dengan demikian ibu-ibu yang lelah sehabis keliling berbelanja di pasar tersebut dapat mampir sejenak untuk memilih bahan bacaan untuk si kecil di rumah. Dalam hal penempatan lokasi perpustakaan umum ini kita patut menyontoh Singapura. Hampir setiap pusat pertokoan di Singapura ada perpustakaan umumnya. Salah satu perpustakaan umum di Singapura berlokasi di pusat perbelanjaan “Takasimaya” yang berlokasi di pusat kota, Orchid Road. Perpustakaan itu penuh dengan pengunjung tua, muda, bahkan anak-anak usia TK/SD yang melakukan aktifitas seperti membaca, melihat-lihat buku, meminjam, dan sebagainya. Di perpustakaan ini juga disediakan kafe dengan kualitas standard internasional, dan setiap beberapa hari perpustakaan juga menyelenggarakan life music di kafenya. Dengan demikian masyarakat yang datang ke perpustakaan juga bisa menikmati makanan yang enak dengan suasana yang enak, serta dapat membaca dengan enak pula. Di perpustakaan ini pendidikan masyarakat dapat dilakukan seperti mendidik berdisiplin dan saling menghargai satu sama lain. Mengambil contoh Singapura tadi misalnya, begitu masuk di pintu utama gedung perpustakaan pengunjung sudah diingatkan dengan etika ke perpustakaan atau library etiket. Peringatan tersebut digambar di lantai seperti matikan handphone dan pager, Jangan berbicara keras, Jangan berdiskusi di perpustakaan. Sedangkan yang berhubungan dengan bahan pustaka ada peringatan seperti Perlakukan pustaka dengan baik, kembalikan ke tempat semula atau ke keranjang pengembalian untuk kenyamanan pembaca lain, dan lain-lain. Disini masyarakat dibiasakan untuk mematuhi etika dan peraturan yang diberlakukan di perpustakaan. Juga dibiasakan untuk menghargai hak-hak orang lain. Misalnya jangan berbicara keras, karena bisa mengganggu kenyamanan orang lain; mematikan telepon genggamnya supaya tidak mengganggu kenyamanan orang lain dan sebagainya. Jika kebiasaan ini dapat berimbas kepada kehidupan mereka di luar perpustakaan, alangkah indah dan nyamannya kita beraktifitas sehari-hari. Tidak ada supir yang berhenti seenaknya; tidak ada orang yang menyerobot antrian di kasir pasar swalayan, di bank-bank dan ATM; tidak ada pejabat yang sibuk menerima panggilan telepon genggam padahal ia sedang menghadiri rapat penting, dan lain-lain.
Perpustakaan juga dapat mendidik masyarakat untuk berperilaku halus yaitu dengan menyediakan bacaan-bacaan rekreasi yang bisa mengasah perasaan mereka seperti buku-buku sastra, novel, cerpen dan lain-lain. Lihat masyarakat sekarang yang cenderung brutal. Tidak terkecuali kalangan terpelajar seperti mahasiswa dan pelajar. Tanyakan kepada mereka, apakah dia sering membaca dan apa bacaannya. Saya yakin mereka jarang sekali membaca, bahkan mungkin tidak pernah membaca. Kalaupun membaca, saya yakin bacaan mereka adalah bacaan yang tidak bermutu yang banyak beredar di sekitar kita, seperti koran-koran kriminal, perkosaan, perampokan, penodongan, pelecehan seksual dan lain-lain yang justru menjadi pemicu kekerasan dan bahkan mengarahkan ke perilaku jahat. Jika perpustakaan dapat menyediakan bacaan bermutu dengan suasana yang nyaman, maka masyarakat mempunyai pilihan untuk mendapatkan informasi. Dengan kesibukan membaca maka para mahasiswa dan pelajar tidak punya waktu lagi untuk bergerombol dan “kongkow-kongkow” dan kemudian saling mengganggu dan tawuran.

Minggu, 27 Maret 2011

Manfaat membacakan Buku Pada Anak Sebelum Tidur

Membacakan buku pada anak sebelum tidur mungkin sudah jarang dilakukan orangtua. Padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak didongengkan cerita sebelum tidur.

"Manfaat yang bisa didapatkan anak-anak dari rutinitas mendongengkan cerita sebelum tidur tidak hanya untuk intelektualnya saja, tapi juga secara emosional," ujar Dr Terri Apter, seorang psikolog sosial di University Cambridge, seperti dikutip dari HealthToday, Kamis (2/9/2010).

Dongeng atau membaca buku cerita sebelum tidur tidak hanya bermanfaat bagi balita dan anak-anak, karena kaum remaja pun masih bisa mendapatkan manfaatnya.

Ini dia beberapa manfaat yang bisa didapatkan melalui kegiatan mendongeng sebelum tidur, yaitu:

Membantu perkembangan bicara dan bahasa anak
Mengajarkan anak berbicara sudah bisa dimulai sejak awal kehamilan, karena orangtua yang mengajak anaknya berbicara akan direspons oleh otak anak dan berusaha untuk menyerap suara serta bahasa yang digunakan ibunya.

Jika kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur ini berlanjut, maka akan mendorong anak untuk berbicara dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Cara ini merupakan salah satu teknik belajar yang menyenangkan bagi anak.

Membantu menenangkan anak yang menangis
Membacakan dongeng sebelum tidur adalah salah satu cara penghilang stres yang efektif. Biasanya orangtua akan membacakan cerita dalam suasana santai dan nyaman, dramatisasi dengan membuat intonasi nada yang berbeda akan membuat anak tertarik untuk mendengarkan cerita. Lama kelamaan anak-anak akan merasa nyaman sehingga tingkat stresnya berkurang.

Membantu meningkatkan IQ anak
Pada anak yang baru belajar membaca, mendongengkan buku cerita yang sama berulang-ulang bisa membantunya mengajarkan bahasa, meningkatkan memori dan mengembangkan imajinasi. Saat pertama kali mendengarkan cerita, anak tidak bisa menangkap semuanya. Tapi jika diulang-ulang, maka anak akan memperhatikan pola dan urutan dari cerita tersebut.

Orangtua harus memperhatikan jenis buku cerita yang akan didongengkan pada anak, misalnya tidak boleh membacakan cerita yang terlalu merangsang atau menakutkan bagi anak. Serta lakukan dengancara yang positif dan menyenangkan agar bisa bermanfaat bagi anak.

Membantu anak agar cinta dengan buku
Membacakan sebuah cerita sebelum anak tidur akan membuat anak mencintai buku dan menjadi senang membaca. Jika anak sudah cinta dengan buku, maka anak akan melihat buku sebagai teman yang menyenangkan seperti halnya mainan. Buku merupakan salah satu media aktif yang dapat menjaga kerja otak anak dan membantu anak menjadi lebih kreatif.

Membantu mengembangkan keterampilan mendengarkan anak
Jika anak ingin memahami isi dari buku yang didongengkan, maka anak harus mendengarkan ceritanya. Karena itu anak akan menyiapkan pikirannya untuk menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan menciptakan kata sendiri untuk memahaminya. Jadi anak akan mendengarkan dengan seksama dan berusaha menguasai keterampilan ini. Selain itu,cara ini juga membantu meningkatkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Membantu anak memiliki pola tidur yang sehat
Ketika anak-anak sudah terbiasa mendengarkan cerita sebelum tidur, maka ritual nyaman ini akan menjadi alarm bagi anak bahwa setelah itu adalah saatnya tidur. Kondisi ini akan membantu anak memiliki jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya, karena itu dianjurkan untuk melakukan rutinitas ini pada jam yang sama sejak anak masih kecil.